Minggu, 09 November 2014

Indahnya Shalat Tahajud

Di antara ajaran Rasulullah SAW yang paling dianjurkan adalah salat Tahajud (Salat malam). Sehingga. dalam literatur fikih islam, salat tahajud diberi hukum sunah muakkadah (sangat dianjurkan). Salat tahajud ini dilakukan pada malam hari setelah salat isya dan diisyaratkan tidur terlebih dahulu.

Pelaksanaan tahajud itu sendiri dikaitkan dengan waktu yang utama yaitu sepertiga malam terakhir yaitu sekitar jam 02.00-04.00 bahkan, ada yang menyebut waktu salat tahajud adalah disaat ketika kita dapat mendengar suara jarum yang jatuh diatas lantai.

Allah SWT berfirman,"dan pada sebagian malam, lakukanlah sholat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu, semoga tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang mulia" (QS. Al-Israa: 79).

Untuk melaksanakan salat tahajud memang merupakan perjuangan yang sangat berat. Apalagi ia dilaksanakan pada waktu manusia sedang enak-enaknya tidur, dalam udara yang dingin, bahkan harus berperang melawan hawa nafsu dan setan yang akan selalu membisikkan untuk tidur lelap. Namun, Allah Maha Mengetahui setiap ibadah hamba-hambanya dan Maha Penyayang terhadap usaha taqaruub kepadanya, Dia memberikan fadhilah (keutamaan) yang besar kepada siapa saja yang melakukan ibadah sunah ini. Maupun dihadapan-Nya nanti, sebagaimana tersirat dalam ayat diatas.

Rasulullah SAW bersabda, "Tuhanmu yang maha pemberi berkah dan Maha Mulia, selalu turun ke langit dunia setiap malam, pada paruh waktu sepertiga malam terakhir, dan dia berfirman,'Barang siapa yang berdo'a kepadaku maka akan aku kabulkan, barangsiapa mengajukan permintaan kepadaku akan aku berikan dan barangsiapa memohon ampun kepadaku akan aku ampuni." (HR. Bukhari dan Muslim).

Itulah tiga keutamaan Shalat Tahajud dan ketiganya pula merupakan harapan setiap hamba. Setiap hamba pasti berharap doanya terkabul, permintaannya diberikan dan dosa-dosa diampuni. Alangkah indahnya jika setiap kita ukat Islam bisa bangun malam, lalu shalat tahajud dan kemudian dilanjutkan dengan do'a. Do'a untuk kebaikan dan kesejahteraan bangsa, meminta rezeki yang halal, ilmu yang bermanfaat, serta kehidupan yang baik (Hasanah). Kita memohon ampun setiap dosa yang kita sengaja maupun tidak sengaja, dengan segala pengakuan khilaf kepada Rabb yang Maha Pengampun.

Selain keutamaan, ada juga keajaiban Shalat Tahajud ini. Sejarah telah mencatat bahwa Rasulullah SAW dan para sahabatnya selalu melaksanakan salat Tahajud. Keajaiban melaksanakan Salat Tahajud telah tercatat dalam Al-Quran. Ada beberapa keajaiban salat tahajud, yakni:

1. Shalat Tahajud sebagai tiket masuk surga.
Abdullah Ibn Muslim berkata, "Kalimat yang pertama kali ku dengar dari Rasulullah SAW saat itu adalah, "Hai sekalian manusia! sebarkan salam, bagikanlah makanan, sambungkanlah silaturahmi, tegakanlah salat malam saat manusia lainnya sedang tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat." (HR. Ibnu Majah).

2. Amal yang menolong di akhirat.
Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya orang orang yang bertaqwa berada didalam taman-taman surga dan dimata air-mata air, seraya mengambil apa yang Allah berikan kepada mereka. Sebelumnya mereka adalah telah berbuat baik sebelumnya (didunia), mereka adalah orang-orang yang sedikit tidurnya diwaktu malam dan diakhir malam mereka memohon ampun kepada Allah." (QS. Az-Zariyat: 15-18).

3. Pembersih penyakit hati dan jasmani.
Salman Al Farisi berkata, Rasulullah SAW bersabda, "dirikanlah salat malam, karena sesungguhnya salat malam itu adalah kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kamu, (salat malam dapat) mendekatkan kamu kepada tuhanmu, (salat malam adalah) sebagai penebus perbuatan buruk, mencegah berbuat dosa dan menghindarkan diri dari penyakit yang menyerang tubuh." (HR. Ahmad).

4. Sarana meraih Kemuliaan.
Rasulullah SAW bersabda, "Jibril mendatangiku dan berkata, "Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu, karena engkau akan mati, cintailah orang yang engkau suka, karena engkau akan berpisah dengannya, lakukanlah apa keinginanmu, engkau akan mendapatkan balasannya, ketahuilah bahwa sesungguhnya kemuliaan seorang muslim adalah shalat waktu malam dan ketidakbutuhannya dimuliakan orang lain." (HR. Albaihaqi)

5. Jalan mendapatkan Rahmat Allah SWT.
Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Semoga Allah merahmati laki-laki yang bangun malam, lalu melaksanakan shalat dan membangunkan istrinya, jika sang istri menolak, ia memercikan air di wajahnya. Juga, merahmati perempuan yang bangun malam, lalu shalat dan membangunkan suaminya, jika sang suami menolak, ia memercikan air diwajahnya." (HR. Abu Daud).

6. Sarana pengabulan permohonan.
Allah SWT berjanji akan mengabulkan doa orang-orang yang menunaikan salat tahajjud dengan ikhlas. Rasulullah SAW bersabda, "dari jabir berkata, bahwa Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya dimalam hari, ada satu saat yang ketika seorang muslim meminta kebaikan dunia dan akhirat, pasti Allah memberinya, itu berlangsung setiap malam (HR. Muslim).

Jumat, 07 November 2014

Aku Mencintaimua, Ayah!

Aku terjatuh, ia membangunkanku. Aku menangis, ia selalu menenangkanku. Aku terlelah, ia menyemangatiku. Aku menyerah, ia memberiku motivasi untuk selalu bangkit dan mencoba lagi. Ialah sumber kasih yang takkan pernah terkikis waktu.

Kepala rela ia jadikan kaki, kaki rela ia jadikan kepala. Kadang di tengah sunyinya malam ia berada di luar rumah untuk mencari nafkah. Sosok yang selalu menjadi inspirasi saat aku mulai mencari makna tentang kasih. Sosok gagah nyaris tak pernah kulihat ia meneteskan air mata di pipi. Ia adalah Ayahku tercinta.

Dahulu saat aku baru melihat bumi, aku yakin ia adalah sosok yang mengumandangkan adzan di telingaku, meski aku tidak ingat kejadian tersebut. Ialah sosok imam bagi keluargaku, sosok teladan bagi anak-anaknya.

Tangannya memang tak selembut kapas, tapi aku yakin ia menimangku selembut hati saat Ibu kelelahan. Ia juga yang mengganti pakaianku saat Ibuku terjaga dalam tidurnya. Ia sosok lelaki yang rela membantu pasangannya saat kelelahan.

Aku ingat kejadian saat balita ia mengajarkanku mengendarai sepeda. Aku terjatuh, ia langsung membangunkanku. Aku menangis, ia selalu menenangkanku. Aku lelah, ia memberiku semangat, Aku menyerah, ia memberiku motivasi untuk selalu bangkit dan mencoba lagi.

Kenangan-kenangan tersebut terukir indah layaknya ketenangan saat aku melihat ombak di tepi pantai. Walaupun ombaknya tinggi aku tetap merasa bahagia dan tenang karena aku tahu ombak itu karya Ilahi. Layaknya Ayahku yang ada di antara miliaran manusia karena kehendak Allah SWT.

Kerja keras dan usahanya tak akan pernah tergantikan. Peluh yang mengaliri seluruh tubuhnya tak mampu aku ringankan. Aku hanya bisa menyaksikan air wajah yang kelelahan saat ia pulang memberikan salam dan aku membuka pintu rumah.

Saat aku pandang wajahnya yang mulai menua. Aku tersadar, superhero sesungguhnya bukanlah spiderman yang mampu merayap di gedung-gedung tinggi, bukan juga superman dengan kekuatan supernya, bukan juga sosok superhero Marvel lainnya.

Ayahku, ialah sosok superhero sesungguhnya. Melawan kejahatan dan keburukan demi menjaga keluarga tercinta. Memberi nafkah kepada keluarga dengan susah payah. Tak pernah kenal kata lelah maupun menyerah. Aku yakin semua ia lakukan demi mengharap ridha Allah SWT.

Kasih sayang lembut yang ia berikan takkan pernah habis dimakan waktu. Selalu membekas di ruang kalbu. Hatiku takkan pernah menipu, ia adalah salah satu alasan aku menginjakkan kaki di muka bumi. Aku yakin kehadiranku di sini memiliki tujuan, yang salah satunya adalah untuk membahagiakannya dengan segala hal yang kupunya.

Doa adalah salah satu kasih sayang dan cara aku membalas segala yang telah ia berikan. Kuangkat kedua belah tanganku di setiap waktu shalat. Memohon kepada Allah SWT segala harapan dan cita tentangnya. Agar selalu dijaga kesehatan dan kekuatan iman serta Islam. Agar ia dijauhkan dari segala bahaya dan fitnah.

Selain doa, aku hanya bisa memberikan senyuman, canda tulus serta berusaha menjadi anak yang lebih baik untuknya. Aku yakin dengan hal tersebut setidaknya ia akan paham bahwa aku juga sangat mencintainya. Meski cintaku takkan pernah mampu menandinginya. Cinta sepanjang masa, Cinta sepanjang jalan. Cinta yang takkan pernah kadaluarsa.

Ayah, engkaulah pahlawan sesungguhnya. Engkau sinar yang mampu menerangi saat diriku redup. Engkau sumber kehidupan. Terima kasih atas kasih dan cinta yang takkan pernah terhenti. Aku mencintaimu layaknya udara murni, meski doaku tak terlihat aku akan selalu ada untukmu. Aku sangat mencintaimu, Ayah.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/10/31/59259/aku-mencintaimu-ayah/#ixzz3IQoZIEvN

Kemewahan Bukan Garansi Pernikahan Langgeng

Hampir dua minggu infotainment mengupas persiapan pernikahan artis ternama di negeri ini, penayangan tidak di satu stasiun televisi melainkan di beberapa TV swasta, waktu penayangan juga hampir di setiap waktu dan cara menayangkannya pun berbeda-beda mulai dari kisah sang mantan, sisi Undangan, tamu, baju pengantin, konsep yang dipakai, rumah baru, kado yang diberikan oleh sahabat maupun keluarga dan hingga nyekar. Apa yang ditayangkan semua dipenuhi kemewahan dan keglamoran. Siapapun yang menonton tentu terpana dan terpesona dengan konsep pernikahan para artis yang ditaburi bunga-bunga yang penuh dengan kesempurnaan. Dan bukan untuk kali ini saja para pesohor diliput oleh media saat akan menikah dan sudah teramat sering. Mungkin bagi Event Organizer pernikahan dengan paradigma mewah merupakan peluang bagi mereka sedangkan yang melaksana pernikahan tentu ini sangat merugikan.

Jika ditinjau dari sisi positif tentu sangat menginspirasi sebagian masyarakat yang akan mendesain pernikahan, bagi sisi media tentu memberi nilai kemanfaatan karena dibanjiri berita, tidak perlu mencari-cari berita, dan kebanjiran iklan-iklan. Tetapi ditinjau dari perspektif sisi negatif tentu sangat tidak mendidik karena mengajari masyarakat untuk melaksanakan pernikahan dengan kecemerlangan dunia. Bagi yang punya uang tentu hal seperti tidak masalah, wajar dan lumrah saja sedangkan bagi masyarakat tidak mampu ingin mengikuti pernikahan para artis tentu tidak masuk akal. Mendorong masyarakat untuk mendesain pesta bak para ratu dan raja. Meskipun pernikahan sekali seumur hidup, tidak juga dibenarkan menikah seperti itu yang seolah-olah membanggakan, seolah menceritakan bahwa mereka orang terpandang, seolah merupakan hal yang wajib dan seolah jika tidak melaksanakan pesta dengan tidak mewah akan mendapat kritikan jelek dari lingkungan.

Sangat besar pengaruhnya media atau artis yang menikah diekspose oleh media karena secara tidak langsung mendorong masyarakat untuk berpesta seperti itu jua dan tidak hanya itu bahkan masyarakat sekarang sudah terbiasa melakukan foto prewedding, menggunakan pakaian seragam dan konsep sudah liberalisasi. Jika boleh melihat masa lalu, sangat jarang masyarakat memakai konsep itu ketika pernikahan. Mungkin inilah namanya perubahan, lain dulu lain sekarang karena saat ini sudah modern sehingga menikah harus bak artis seperti yang ditonton oleh mereka.

Padahal dalam Islam pernikahan cukup disederhanakan tidak perlu berlebihan-lebihan yang penting rukun nikah terpenuhi, apalagi sampai memaksakan diri dengan menggadaikan harta, meminjam ke sana-sini termasuk pinjam dari bank demi sebuah pencitraan di tengah masyarakat. Sebab apa? Andailah di tengah masyarakat tidak melaksanakan pesta penuh euforia, bisa-bisa mendapat label, merasa tidak enak dari masyarakat ataupun dari keluarga. Inilah bentuk kesalahpahaman masyarakat yang harus diluruskan oleh manusia beriman. Diperparah lagi pernikahan di zaman sekarang membutuhkan finansial yang mapan sebab segala barang serba mahal. Bukan tidak dibenarkan melaksanakan syukuran pernikahan, sangat diperbolehkan akan tetapi lebih elok bentuk syukuran itu disederhanakan. Toh tujuan resepsi bukan untuk menunjukkan diri bahwa kita mampu melaksanakan pesta pernikahan dengan kegemerlapan, membedakan si kaya dengan si miskin, membedakan keluarga terpandang dengan keluarga biasa melainkan tujuan resepsi adalah meminta doa dari para tamu agar diberkahi menjadi keluarga sakinah mawaddah warrahmah.

Nyatanya, begitu banyak mereka-mereka yang melaksanakan pernikahan mewah dengan konsep yang sangat spektakuler tetapi apa yang terjadi? Melainkan perceraian, terjadi perselingkuhan dan siap-siap membayar utang setelah menikmati pesta pora. Bahwa kemewahan tidak menjamin pernikahan itu langgeng, bahagia dan sakinah. Sangat menyedihkan bukan! Sudah melaksanakan pernikahan dengan penuh kemewahan tetapi akhirnya menyedihkan. Ada pula di sekitar kita menikah hanya ijab qabul saja tidak dimeriahkan dengan resepsi pernikahan, tetapi sungguh pernikahan mereka penuh nuansa cinta dan romansa sakinah mawaddah warrahmah.

Apa yang membuat pernikahan penuh keberkahan karena dilatarbelakangi niat yang suci ingin menjaga hati agar tidak terkotori, menerima kekurangan masing-masing, terus menerus saling memahami dan selalu berkomunikasi atas aturan cinta-Nya tidak perlu dengan pesta mewah yang penting bagaimana memahami makna ijab qabul, bagaimana meresapi janji-janji dilontarkan pada Allah langsung dan tetap setia menjadi sepasang kekasih hingga maut memisah. Sebab Allah tidak melihat dan mengukur kebahagiaan dalam pernikahan dari pesta melainkan dari niat yang suci untuk menikah dalam rangka untuk beribadah pada-Nya.

Mungkin ini merupakan pilihan bagi yang akan menikah atau akan resepsi! Silakan memilih yang sesuai dengan kesanggupan dan selera jangan memaksa apalagi sampai membebani keluarga. Akan lebih elegan pernikahan dilaksanakan dengan konsep kesederhanaan walaupun sebenarnya mampu berpesta pora. Tapi itu jarang ditemui di abad sekarang karena di zaman digitalisasi lebih mementing pencitraan dibanding niat yang suci.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/10/16/58497/kemewahan-bukan-garansi-pernikahan-langgeng/#ixzz3IQkALaio

Menikahlah ! Maka Keajaiban

Jaminan Allah adalah kepastian. Dia mustahil mengingkari apa yang telah menjadi janji suci-Nya. Semua yang tersebut di dalam al-Qur’an, diperjelas oleh banyak sabda sang junjungan, adalah garansi pasti yang tak terbatas jenis kerusakan dan masanya. Maka merugilah mereka yang masih meragukan Allah Swt dan apa yang telah diikrarkan-Nya dalam kalam suci.

Menikah, dijanjikan oleh Allah Swt sebagai salah satu pembuka pintu rezeki. Difirmankan dalam kalam-Nya, jika kalian fakir, maka menikahlah. Lanjutannya, kelak Allah Swt akan membuatmu menjadi kaya.

Inilah kebenaran firman-Nya. Sebab Dia Mahatahu, meski terjamin, akan banyak hamba-Nya yang ragu dalam melangkah dan menjalani ikatan suci bernama pernikahan itu. Meskipun, lagi-lagi, sudah amat banyak bukti dari mereka yang telah mengambil jalan kebaikan itu.

Si Ayah, sebutlah demikian, disibukkan dengan ritual pekanan, Senin. Si Sulung dan adiknya kembali ke kampus, anak ke tiga bersekolah di tingkat akhir Sekolah Menangah Atas. Sedianya, Ibunya harus ke sekolah juga. Sebab sedang menjenguk anak ke lima dan enam di pesantren, kali ini rumah sepi tanpa kehangatannya.

Maka sibuklah ia yang disebut Ayah dalam cerita. Mulai menyiapkan minuman untuk buah cinta, mengantarnya ke sekolah, hingga membeli sarapan untuk mertua dan anaknya yang lain.

Sejak malamnya, listrik rumahnya sudah berteriak-teriak; mengeluarkan bunyi mirip alarm yang menandakan bahwa kuotanya pulsa hampir habis. Sehingga harus diisi agar lampu dan perangkat listrik lain di rumah yang baru dikontrakanya itu tidak padam seketika.

Setelah anak-anak berangkat semua, datanglah Ibu Mertuanya. Berkunjung sembari bertanya tentang listrik yang hampir habis kuotanya itu, “Nak, pulsa listrik akan diisi kapan? Uangnya sudah ada?”

Dengan senyum, si Ayah menjawab santai, penuh keyakinan, “Insya Allah siang ini, Mah. Insya Allah, uangnya ada.”
Maka setelah sedikit bincang ringan, Ibu Mertua beranjak kembali ke kediamannya. Semoga jawaban Ayah barusan, bisa membuatnya tenang.

Waktu pun berjalan. Si Ayah melanjutkan aktivitas seperti biasanya. Di sepanjang pagi itu, ada banyak hal yang harus dirampungkan. Mulai diskusi di forum yang menjadi spesialisasi pekerjaannya, hingga urusan domestik yang sudah biasa menjadi kesukaannya; wujud cintanya yang belum sempurna.

Ternyata, Sang Mertua bolak-balik untuk memastikan. Diulanglah beberapa kali pertanyaan serupa. Kemudian dijawab dengan redaksi yang tak berubah. Hanya satu niat Ayah, “Agar mertuanya tidak khawatir.” Sama sekali; bukan berbohong.

Ketika kunjungan Mertua terakhir kalinya, saat terdengar salam khasnya, Si Ayah tengah mendirikan Dhuha’. Sebagai wujud menjalankan sunnah dan amalan yang tengah didawamkannya. Berharap, menjadi amal unggulan dan bisa menolong pelakunya kelak di surga.

Selepasnya, beranjaklah ia melihat ponselnya. Di sanalah ia bisa beraktivitas. Mulai berkarya hingga belajar berbisnis. Meski, kecil-kecilan.

Seperti diantarkan, meski tak ada angin atau hujan, terbelalaklah mata Ayah ketika menabrak sebuah pesan yang menunjukkan bukti pembayaran salah satu kliennya. Hal itu sama sekali tak direncanakan, dia sendiri tak pernah mengerti akan diantarkan rezekinya lewat jalur itu.

Selepas ucap hamdalah dan terus berdzikir, datanglah ia ke rumah mertuanya. Seraya mengunci pintu dan menitipkan kuncinya, ia berpamit, “Mah, keluar sebentar ya? Mau ngisi pulsa listrik.” Sang Mertua, tersenyum lebar sembari memberi izin, “Iya, Nak. Hati-hati.”

Maka berjalanlah ia dalam syukur tak terukur. Rupanya, yakinnya hari itu diganjar tunai oleh Sang Maha Pemberi rezeki. Sesampainya di tempat pengecekan uang, tersebutlah angka tertentu seperti yang dikabarkan oleh sang klien. Ternyata, jumlahnya dua kali lipat dari niat yang dia bisikkan dalam hati ketika hendak mengisi pulsa listrik di pagi hari tadi.

Ketika sore harinya Sang Mertua kembali bertandang, dikisahkanlah riwayat tersebut. Sang Mertua terlihat tak menggerakkan mulut seraya bertahmid. Katanya, “Masya Allah, alhamdulillah ya, Nak. Padahal Mamah juga ada uang.”

Hanya tersenyum, Si Ayah yang merupakan menantunya itu menjawab, “Alhamdulillah, Mah. Kan, tadi pagi bilang, ‘Insya Allah, ada.’ Dan benar-benar ada di siangnya.”

Demikianlah keajaiban itu. Ketika dibincang, akan semakin banyak daftar dan berbagai jenisnya. Inilah pelajaran hidup, bagi siapa yang mau memungut dan memanfaatkannya. Intinya bukan hanya pada seberapa banyak membaca dan memahami. Lebih jauh, ini adalah terkait seberapa beranikah diri untuk menjalankannya.

Karena, anda tidak akan benar-benar tahu sebelum mencobanya sendiri. Tak percaya? Buktikan saja sendiri! [] 

Bahaya Mabuk Pujian

Dipuji, dikagumi, diperlakukan spesial itu sangat nikmat, sehingga banyak orang yang sangat merindukannya.

Dan bagi yang tak hati – hati dan tak kuat iman, akan banyak kerusakan yang timbul bila sudah diperbudak dan mabuk pujian.

Seperti orang mabuk; berpikir, berbicara, bersikap dan mengambil keputusan menjadi tak normal / error.

Hati akan cenderung hilang kepekaan, mudah tersinggung dan sakit hati bila orang tak memuji atau mmperlakukannya tak sesuai harapan.

Hidup selalu galau, sangat cemas orang tak lagi memperhatikannya. akal selalu berputar akibatnya jadi kurang peduli kepada yang lain, selalu orientasi diri sendiri.

Sibuk sekali membangun ‘kemasan’/topeng’ demi penilaian orang walau harus berhutang atau menanggung resiko yang berat.

Orang – orang disekitarnya pecinta penilaian manusia, tak akan merasa nyaman, karena yang bersangkutanpun tak nyaman dengan dirinya sendiri.

Hubungan dengan Allohpun semakin terhijab, walau banyak ilmu agama dan rajin ibadah, karena di hatinya bukanlah Alloh yang dituju melainkan sibuk dengan penilaian makhluk.

Mengapa orang memuji? Karena mereka tidak tahu siapa diri kita. Kalau mereka tahu siapa kita sebenarnya, pasti mereka tak akan memuji. Celakanya kalau dipuji, kita menikmati sesuatu yang sesungguhnya tidak ada pada diri ini.

Pujian dapat membuat kita jadi yakin seperti apa yang dikatakan orang, sampai kita tidak jujur kepada diri sendiri. Sebenarnya yang tahu seperti apa diri ini adalah kita sendiri. Orang yang memuji hanya menyangka saja.

Seharusnya, pujian itu membuat kita malu. Karena apa yang mereka katakan, sebenarnya tidak ada pada diri kita. Tapi bagi para pecinta dunia, mereka akan menikmati sesuatu yang tidak ada pada dirinya. Artinya, dia berbohong pada dirinya sendiri.

Bahayanya pujian itu ada tiga :

Pertama, kita jadi terpenjara oleh pujian orang. Kita takut kehilangan segala pujian pada diri. Akibatnya, kita melakukan apa saja supaya pujian itu tidak hilang. Orang yang dipuji dan memercayai pujian, dia tidak akan menerima nasihat dari orang lain. Karena dia benar-benar termakan, terbelenggu dan terpenjara oleh pujian tersebut.

Kedua, dia sangat sulit mengakui kekurangannya. Ini adalah malapetaka. Orang yang tidak bertaubat, dialah orang zalim. Orang yang tidak mau mengakui dosanya itu termasuk zalim. Kalau kita telah menyakiti orang, tetapi tidak mengakui, berarti kita sudah zalim. Zalim pada orang dan pada diri sendiri.

Ketiga, kalau orang sudah senang dipuji, maka tidak ada ikhlas dalam dirinya. Karena segala perbuatan yang dilakukannya hanya untuk mempertahankan pujian. Dia akan mengatur penampilan dan sikapnya agar terlihat baik bagi orang. Apakah mungkin orang seperti ini akan ikhlas? Jawabannya tidak! Karena dia melakukan apapun bukan untuk Allah lagi, tapi karena untuk pujiannya. Tiap hari pekerjaannya hanya berpikir bagaimana agar tetap dianggap teladan.

Seorang anak yang sudah terbiasa dipuji, berarti kita merusak dia. Dia akan merasa dirinya istimewa. Dia merasa dirinya khusus dan merasa dirinya lebih dari orang lain. Maka tunggulah ketika dia dewasa, dia tidak akan memandang orang tuanya. Karena dia dibesarkan untuk tidak jujur melihat dirinya. Dia dibesarkan untuk melihat dan membangun topengnya.

Rasulullah SAW bahkan amat tidak berkenan bila melihat orang lain memuji-muji:

“Bila kamu melihat orang-orang yang sedang memuji-muji dan menyanjung-nyanjung maka taburkanlah pasir ke wajah-wajah mereka.” (HR. Ahmad)

Jangan menikmati pujian atau jangan termakan terjebak pujian. Pujian itu bisa memabukkan diri seseorang. Segalanya bisa jadi alat untuk membuatnya dipuji. Berbuat sederhana pun bisa menjadi alat pujian, yakni, supaya dinilai tawadlu. Padahal dengan pujian-pujian itu hidupnya bisa menjadi munafik. Orang-orang di sekitarnya juga tidak nyaman, karena orang-orang tidak bisa dibeli hatinya dengan kepura-puraan.

Islam mengajarkan kita menjadi orang yang asli. Murni tanpa rekayasa dan kepura-puraan. Apa yang kita perbuat tujuannya cuma satu agar Allah menerima (ridha). Tidak ada masalah dengan penerimaan dan penghargaan dari orang lain. Yang penting apa yang kita lakukan benar, tidak menyakiti dan melanggar hak orang lain.

Tidak ada kepura-puraan, tidak ada kepalsuan. Antara perbuatan dan perkataan sama, maka akan tercipta rasa nyaman. Nyaman untuk kita, nyaman untuk orang di sekitar kita. Kalau berpura-pura, kita akan merasa tidak nyaman. Orang lain pun juga merasa sama, tidak nyaman.

Islam itu nyaman di hati betapapun badai harus dihadapi. Kenapa? Karena tidak ada kepura-puraan.



Ditulis oleh: KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym )

Beliau adalah pengasuh pondok pesantren Daarut Tauhiid Bandung – Jakarta.

Sumber: smstauhid.com

Kamis, 06 November 2014

Kisah Mengharukan, Makan Malam Terakhir Bersama Ibu

Ada banyak catatan yang mesti diperhatikan oleh seorang anak selepas menikah. Baik ia sebagai anak perempuan maupun laki-laki. Khusus bagi laki-laki, ada penekanan dalam hal ini. Sebab, hingga kapan pun, surga bagi seorang anak letaknya ada pada kaki ibunda.

Selain itu, selepas menikah, bakti seorang anak sama sekali tak otomatis terputus dengan alasan telah memiliki keluarga sendiri. Dalam hal ini, penting kiranya bagi kedua pasangan dan keluarga terdekat untuk saling mengingatkan.

Jangan sampai kisah ini terjadi antara diri dan ibu kita. Sebuah kisah haru nan memilukan ini, patut dijadikan cermin bagi kehidupan kita; sebagai anak maupun orangtua.

Sebutlah namanya Fulan. Sudah 21 tahun ia menikah dengan seorang wanita bernama Fulanah. Tepat di usia ke 21 pernikahannya, sang istri bertanya menawarkan, “Mas, tak berkenankah kau makan malam bersama seorang wanita?” Sang suami yang memang tak memiliki saudara dan anak wanita itu bertanya kebingungan, “Maksudmu?”

Lantas dijelaskanlah oleh sang istri, “Esok, keluarlah untuk makan malam bersama ibu.” Aduhai, rupanya Fulan ini amat sibuk mengurusi keluarga, pekerjaan dan kehidupannya. Lanjut Fulanah, “Sudah 21 tahun –sejak menikah denganku- kau tak pernah makan malam bersama ibu,” katanya menerangkan, “Teleponlah beliau, ajaklah makan malam. Beliau pasti amat mendambakan kebersamaan denganmu.”

Segeralah Fulan menelepon sang ibu. Dalam perbincangan udara itu, disampaikanlah maksudnya. Sang ibu yang telah lama menjanda dan hidup bersama keluarga lainnya itu amat sumringah mendengar ajakan itu. Meskipun, ada rasa tak percaya akan ajakan mengagetkan dari anak yang amat disayanginya. Pasalnya, masa 21 tahun bukanlah bilangan waktu yang sebentar.

Hari yang direncanakan pun menyapa. Fulan menuju rumah ibunya. Sesampainya di depan rumah sang ibu, sosok janda yang sudah lama mendambakan kebersamaan bersama anaknya itu tengah menunggu, tepat di rahang pintu. Tak ingin diketahui oleh saudaranya yang lain, sang ibu langsung menyambut, menghampiri dan bergegas masuk ke dalam mobil.

Di dalam mobil, terjadilah perbincangan kecil antara keduanya. Tentang rumah makan dan menu terbaik yang hendak mereka tuju dan santap malam ini. Tak lama, tibalah mereka di tempat makan terbaik di kota itu.

Lamat-lamat, sang anak memerhatikan pakaian yang dikenakan oleh ibunya. Agak sempit. Rupanya, itu adalah pakaian terakhir yang diberikan oleh almarhum suaminya. Duhai, sang anak ini sampai lupa membelikan pakaian untuk ibunya.

Maka datanglah pelayan pembawa menu. Disodorkanlah daftar makanan yang hendak dipesan. Ternyata, sang ibu sudah tak kuasa membaca. Dengan senyum, Fulan menawarkan, “Aku bacakan menunya. Tunjuk saja menu apa yang Ibu kehendaki.”
Lantas dipesanlah aneka jenis makanan yang dihidangkan, tak lama kemdian.

Bersebab bahagianya yang memuncak lantaran diajak makan malam oleh anak kesayangannya, selera makan sang ibu tenggelam seketika. Sama sekali tak berminat untuk mencicipi, apalagi melahapnya. Sosok yang sudah hampir terbenam masa hidupnya itu hanya memerhaikan anaknya, dengan cinta dan rindu yang kian bertambah.

Di tengah menikmati menu makan malamnya, Fulan berkata, “Bu, ini yang pertama sejak 21 tahun yang lalu. Maafkan anakmu ini. Esok kita akan makan malam lagi untuk yang kedua.”

Mendengar kalimat itu, mata sang ibu berbinar sumringah. Binar bahagia itu semakin bertambah hingga kedua insan itu pulang. Sang anak mengantarkan ibunya ke kediamannya, sementara ia kembali ke rumahnya.

Waktu-waktu selepas itu, adalah waktu menuggu nan membahagiakan bagi sang ibu. Ditungguilah ponselnya guna berharap panggilan dari anaknya. Sementara itu, di belahan tempat lain, sang anak tetap sibuk dengan dunia, pekerjaan dan kehidupannya. Ia, benar-benar lupa dengan janji yang diungkapkannya sendiri.

Lantaran usia yang menua, sang ibu pun sakit. Makin hari, bertambah parah sakitnya. Alasan sibuk pun membuat Fulan tak kunjung membesuk ibunya. Hingga akhirnya, wanita berhati lembut itu wafat sebelum sang anak sempat menjenguknya.

Proses pemakaman pun berlangsung dengan lancar. Ada haru nan pilu yang menelisik ke dalam hati Fulan. Perasaan bersalah selalu datang belakangan. Andai perasaan itu bisa datang lebih dulu, mungkin saja ia akan bisa menebus dosanya.

Lepas pulang dari pemakaman, ponselnya bergetar. Diangkatklah oleh si Fulan. Tertera dalam layar, pemanggil adalah ruma makan tempat ia dan ibunya makan malam tempo hari. “Halo, Pak Fulan,” ucap suara dari seberang. Lepas disahut, penelepon melanjutkan, “Maaf, Pak. Dalam catatan kasir kami, bapak telah memesan tempat makan malam untuk dua orang. Tagihannya suda dibayar oleh Ibu anda.”

Entahlah apa yang dirasa olehnya. Tanpa penutup, dimatikanlah ponselnya sembari bergegas menuju rumah makan tersebut. Sesampainya di sana, sang kasir menyerahkan sebuah pesan tertulis tangan. Dari sang ibu. Tertera di dalamnya, “Nak, aku mengerti. Malam ini adalah makan malam terakhir kita. Meski kau sampaikan akan ada yang kedua, aku tak terlalu yakin. Maka, makanlah bersama istrimu. Aku sudah membayarnya untumu dengan uang Ibu.”

“Ibu, Ibu, Ibu,” demkianlah pesan Rasulullah Saw. Sosok mulia itu harus didahulukan dari sosok bapak. Sosok ibu adalah mutiara kebaikan nan tak tergantikan. Selalu ada mutiara yang bisa digali darinya. Pasti ada hikmah dari wanita yang mungkin saja, sudah kita sia-siakan sejak lama.

Rabbi, ampuni dosa kami, dosa bapak dan ibu kami. Sayangilah keduanya, sebagaimana mereka menyayangi kami di masa belia. [Pirman]

*Disadur bebas dari buku 1001 Alasan Kamu Harus Sayangi Ibumu, Monde Ariezta

Sumber: kisahikmah.com