Tampilkan postingan dengan label penyejuk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penyejuk. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Oktober 2015

Mengapa Tidak Merasakan Ketentraman Hati Di Majelis Ilmu?

Tidak diragukan lagi bahwa majelis ilmu adalah sumber ketentraman hati, ketenangan jiwa dan tempat me-recharge keimanan kita. Akan tetapi kenapa majelis ilmu tidak ramai orang-orang berlomba-lomba menghadirinya? Dan mengapa sebagian orang tidak merasakan ketentraman hati di majelis ilmu? Berikut mungkin tiga penyebab yang kami rasa paling sering menjadi penyebabnya:

Pertama: Tidak ikhlas dalam menuntut ilmu dan ada tujuan dunia dibaliknya
Yang seperti ini pasti tidak merasa ketenangan hati karena ilmu agama tidak akan masuk ke dalam hati yang rusak. Imam Al-Ghazali rahimahullah berkata,
“Kami dahulu menuntut ilmu bukan karena Allah ta’ala , akan tetapi ilmu enggan kecuali hanya karena Allah ta’ala.”[1]

Apalagi terkadang kita menuntut ilmu untuk memperoleh kedudukan yang tinggi, mencapai gelar “ustadz”, menjadi rujukan dalam berbagai pertanyaan. Bahkan ingin menyaingi ilmu ustadz atau seniornya. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk menyombongkan diri di hadapan para ulama atau untuk berdebat dengan orang-orang bodoh atau untuk menarik perhatian manusia maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka”[2]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
“Berkata sebagian ahli ilmu merupakan kebaikan sifat seseorang adalah bertanya tentang ilmu. Telah dikatakan, Jika anda duduk bersama seorang ‘alim (ahli ilmu) maka bertanyalah untuk menuntut ilmu bukan untuk melawan/ngeyel”[3]

Memang masalah niat adalah masalah yang cukup berat untuk diikhlaskan. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata,
“Tidaklah aku berusaha untuk mengobati sesuatu yang lebih berat  daripada meluruskan niatku, karena niat itu senantiasa berbolak balik”[4]
 
Kedua: Pemateri tidak kompeten dalam ilmu agama
Tentu jika pemateri yang memberikan materi tidak cakap atau tidak ahli maka isi dan penyampaiannya akan tidak menarik dan membosankan. Kita ambil contoh ketika khutbah Jumat dimana terkadang yang menjadi khatib adalah ustadz karbitan, ustadz jadi-jadian, modal gelar profesor atau doktor saja sudah berani berbicara banyak tentang agama padahal tidak kompeten. Maka jelas makmum jumatan akan mengantuk dan justru tidak merasakan ketenangan. Inilah yang dimaksud oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,
”Sesungguhnya kamu pada hari ini berada pada zaman dimana banyak sekali ulamanya dan sedikit sekali khutobaa’nya, barang siapa yang meninggalkan sepersepuluh dari apa yang telah ia ketahui (dari urusan agamanya) maka sesungguhnya ia telah mengikuti hawa nafsu. Dan akan datang nanti suatu zaman dimana banyak sekali khutobaa’nya [khutobaa’: khatib tanpa ilmu –pent] dan sedikit sekali ulamanya, barang siapa yang berpegang dengan sepersepuluh dari apa yang telah ia ketahui (dari urusan agamanya), maka sesungguhnya ia telah selamat.”[5]

Berbeda jika yang memberikan ceramah kompeten dan berilmu yang luas, maka kita akan mendapatkan banyak faidah dan bisa menggetarkan dan menenangkan hati. Lihatlah apa yang disampaikan oleh Imam Adz Dzahabi rahimahullah menyampaikan kisah Ahmad bin Sinan, ketika beliau berkata,
“Tidak ada seorangpun yang bercakap-cakap di majelis Abdurrahman bin Mahdi. Pena tak bersuara. Tidak ada yang bangkit. Seakan-akan di kepala mereka ada burung atau seakan-akan mereka berada dalam shalat.”[6]
 
Ketiga: Tidak belajar agama secara ta’shiliy [belajar dari dasar]
Menjadi fenomena juga bahwa ada yang belajar agama terkesan “semau gue”, mau datang kajian bisa, tidak datang juga tidak masalah, belajar agama juga tidak sistematis atau belajar secara ta’shiliy [belajar dari dasar]. Sehingga belajar agama terkesan berat dan membosankan dan tentu bukan ketenangan yang didapat. Sebagaimana jika kita belajar ilmu dunia, misalnya kedokteran maka digunakan kurikulum dari dasar supaya lebih mudah, maka demikian juga ilmu agama.

Syaikh Muhammad Shalih bin Al-‘Utsaimin rahimahullahu berkata mengenai hal ini, “Janganlah mempelajari buku sedikit-sedikit, atau setiap cabang ilmu sepotong-sepotong kemudian meninggalkannya, karena ini membahayakan bagi penuntut ilmu dan menghabiskan waktunya tanpa faidah, misalnya sebagian penuntut ilmu memperlajari ilmu nahwu, ia belajar kitab Al-Jurumiyah sebentar kemudian berpindah ke Matan Qathrun Nada kemudian berpindah ke Matan Al-Alfiyah..demikian juga ketika mempelajari fikih, belajar Zadul Mustaqni sebentar, kemudian Umdatul Fiqh sebentar kemudian Al-Mughni kemudian Syarh Al-Muhazzab, dan seterusnya. Cara seperti Ini umumnya tidak mendapatkan ilmu, seandainya ia memperoleh ilmu, maka ia tidak memperoleh kaidah-kaidah dan dasar-dasar.”[7]

Dan masih ada penyebab yang lainnya seperti:
  • suasana yang gaduh karena ibu-ibu membawa anak-anak mereka, ada yang menangis dan ribut. 
  • banyaknya yang berjualan di sekitar majelis ilmu sehingga terkadang menggangu
  • tempatnya kurang nyaman dan terkadang berdesak-desakan
Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Walamdulillahi robbil ‘alamin.

**
Catatan kaki
[1] Thabaqat Asy-Syafi’iyah 6/194, Darun Nasry, cet.II, 1413 H, Syamilah
[2] HR. At-Tirmidzy 5/32 no.2654, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani
[3] Miftah Daris Sa’adah 1/168, Darul Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, Syamilah
[4] Jami’ Al-‘ulum wal hikam hal. 18, Darul Aqidah, Koiro, cet.I, 1422 H
[5] HR. Ahmad dalam Musnadnya (5/155). Silsilah ash-Shahiihah karya Syaikh al-Albani (no 2510).
[6] Tadzkiratul Hufadz 1/242, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, Beirut, cet.I, 1419 H, syamilah
[7] Kitabul ‘ilmi syaikh ‘Utsaimin hal. 39, Darul Itqaan, Iskandariyah

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen
Artikel Muslim.or.id

Rabu, 14 Oktober 2015

Shalat Dengan Sisi Kehidupan Kita

Salah seorang ulama shalih mengatakan, "Shalat adalah Cahaya, yang terpancar dari hati seorang mukmin. Menerpa dan menyinari wajahnya, lalu memantul keseluruh anggota tubuhnya; Cahaya, yang digunakan Allah untuk menujukan siapa saja yang mencari keridhoan-Nya menuju jalan-jalan keselamatan; Cahaya, yang disandang oleh seorang mukmin ketika berjalan diantara manusia, sehingga ia melihat apa yang tidak dilihat orang lain; dan juga Cahaya, yang berkilau dihadapan dan di sbelah kanannya kelak pada hari kiamat nanti."

Kalimat-kalimat diatas merupakan untaian kata yang penuh pancaran cahaya, sebab yang menjadi titik bahasannya adalah Shalat. Ya, shalat menjadi sesuatu yang amat menakjubkan! Shalat menancap dalam tiap potongan belahan fase hidup kita. Lima kali sehari semalam, sebagai kesempatan bagi seseorang untuk membersihkan noda-noda dan menyeka kesalahan-kesalahannya.

Disela-sela kepenatan bekerja dan beraktifitas, Shalat Dzuhur datang menyapa, untuk mengingatkan kita akan Allah dan menghidupkan kembali diri kita. Selanjutnya kita pun menyelesaikan pekerjaan hingga rasa penat dan capai datang kembali. Saat itu, tibalah Shalat Ashar untuk mengembalikan gairah dan semangat kerja serta mengantarkan jasad kita menuju saat-saat beristirahat. Shalat Magrib pun menghidupkan lagi diri kita, hingga kemudian datang Shalat Isya dan menutup episode hari ini. begitulah, kita pun memulai hari baru bersama Shalat Subuh dengan semangat baru.

Shalat adalah terminal-terminal pengisian bahan bakar bagi diri kita. ketika kita mulai lemah semangat, turun gairah dan letih badan, shalat ini datang menyapa untuk membekalinya dengan bahan bakar spiritual dan tali jalinan yang menjadikannya hidup denagn jasad diatas bumi, tapi ruhnya tersambung ke langit.

Sepenuhnya kita ketahui, seorang manusia senantiasa memiliki kebutuhan. Kebutuhannya yang tanpa batas, selalu bertambah, tanpa henti, samapai lepasnya nyawa dari jasad. Suatu ketika ia akan memiliki rasa butuh yang sangat tinggi terhadap sesuatu, saat inilah tiba peranan Shalat Sunat Hajat dimana ia menghiba kepada Alloh SWT untuk menunaikan hajat dan kebutuhannya. Tatkala ia berada dalam kebimbangan demi memilih antara dua hal, datanglah peranan Shalat Sunat Istikharah. Dan selepas becek oleh dosa serta kemaksiatan, segera ia insaf tersadar dan menunaikan Shalat Sunat Taubat. Tatkala sang hamba Alloh ini sangat ingin sekali dekat dan 'mengunjungi' serta ingin berbicara langsung dengan sang maha pencipta Alloh SWT maka ia pun terbangun dari tidur malam lelapnya sebelum mengawali hari, menghirup udara segar pagi hari dalam Qiyamullail dan melaksanakan Shalat Sunat Tahajud.

Anda pun bisa melihat, ketika umat ini berada dalah kebahagiaan dan keceriaan, Shalat Sunat Hari Raya datang ditengah puncak gelombang kegembiraan tersebut. Dan saat umat ini tertimpa oleh kesulitan ekonomi semisal paceklik atau kemarau berkepanjangan, Shalat Sunat Istisqa' hadir untuk memohon siraman hujan. Kemudian, ketika muncul gejala alam yang unik semisal gerhana matahari, kita sama-sama melaksanakan Shalat Gerhana untuk memuji allah. Disamping itu, tentu kita tidak melupakan Shalat Jum'at, saat diamana umat ini berhimpun dan berkumpul sepekan sekali.

Perhatikan, saudaraku, betapa erat kaitan  shalat dengan segala sisi kehidupan kita...!


Yang juga cukup menarik disini, adalah ketika seorang bayi dilahirkan, Islam mensunnahkan kita untuk membacakan azan ditelinga kanan dan iqamah disebelah kirinya. Selama ada adzan dan iqamah, pasti ada pula pelaksanaan shalat. Tidakkah kita renungkan, kelak, selepas nyawa dari badan, kita juga akan di shalatkan?.

Jadi, Hidup kita diawali dengan Adzan dan diakhiri dengan Shalat. Di antara titik awal dan titik akhir ini, terbentang kehidupan kita yang membawa tema utama "MENEGAKAN SHALAT"!

Kamis, 26 Maret 2015

Alhamdulillah, Polwan Berhijab

SubhanAllah walhamdulillah akhirnya POLRI mengizinkan POLWAN untuk mengenakan jilbab berdasarkan Keputusan Kapolri No 245/III/2015. Abang sujud syukur, jazaakumullah semua bapak bapak petinggi POLRI dan semua ikhwah yg berjuang hingga keluar keputusan mulia ini. Kini terbuka bagi muslimat POLRI untuk hidup bahagia, terhormat dan cantik dg busana kemuliaan jilbab. Kembali abang sampaikan diantara alasan Mengapa Wanita Mu'minat Berjilbab,
  • Tujuan hidup seorg mu'min adalah Keridhoan Allah, "Ath thooah baabur ridho" taat berjilbab itu pintu diantara pintu keridhoan Allah. "Hai Nabi, katakanlah kpd isteri2mu, anak2 perempuanmu dan isteri2 mu'minin,"Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yg demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal dan tidak mudah di ganggu (QS Al Ahzab 59),
  • Taat kpd Rasulullah, "Wahai Asma! Sesungguhnya seorg gadis yg telah haidh, tidak boleh baginya menampakkan anggota badan kecuali pergelangan tangan dan wajah saja" (Muttafaqun alaihi),
  • Krn ingin selamat di akhirat, sungguh siksa pedih bg mereka yg buka auratnya di akhirat, "…Para wanita yg berpakaian tapi telanjang (tipis atau tidak menutup seluruh aurat), berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yg miring. mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya.” (HR. Abu Dawud),
  • Ingin amal ibadah diterima, ”Tidak diterima shalat perempuan yg sudah haidh (balighah) kecuali dg menutup auratnya" (HR Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Maja),
  • Pembeda dirinya dg yg lain dan sebagai syiar wanita mu'minat (QS Al Ahzab 59),
  • Selamat dari tipudaya syetan, "Maka Syaitan membisikkan fikiran jahat kpd keduanya u menampakkan kpd keduanya yg tertutup dari mereka yaitu auratnya .." (QS Al A'raf 20),
  • Auratku hanya u yg Allah halalkan, (QS An Nur 31). Jangan jadi alasan atau contoh wanita berjilbab yg berakhlak buruk, itu wanita yg belum faham dan beriman utuh ajaran Islam. Teladanilah wanita mu'minat yg berjilbab dg kemuliaan akhlak. "Semoga sahabat wanita FBku yg belum berjilbab suatu saat kalian atas hidayah Allah menutup aurat kalian...aamiin". Abang sangat bahagia malam ini, semua memang harus sabar dan penuh kasih sayang kalau Syariat Allah tujuannya.
Sumber: Diambil dari Fanspage Resmi K. H. Muhammad Arifin Ilham,
https://www.facebook.com/kh.muhammad.arifin.ilham/photos/a.435861909738.221420.56922759738/10153278531879739/?type=1&theater

Kamis, 18 Desember 2014

Kok Dia Bisa Ya ??

Kita suka memerhatikan orang-orang yang berhasil di usia yang relatif muda, lalu dalam hati dan benak kita berfikir, "enak banget ya hidupnya, masih muda, kaya, memesona pula". Tidak jarang muncul pertanyaan "Kok dia bisa ya?

Terkadang kita terlalu fokus dengan kekurangan yang kita miliki sehingga kita melupakan potensibesar yang sebenarnya ada pada diri kita. Mungkin akan lebih baik jika kita fokus pada kelebihan yang kita miliki.

Perhatikan dua kalimat berikut ini
Coba kalian bandingkan, kalimat mana yang lebih enak untuk didengar? Tentunya kalimat yang kedua bukan?

Setiap manusia pasti memiliki kekurangan, tetapi Allah pasti juga melengkapi kita dengan kelebihan dan kelebihan tersebut pada dasarnya dapat menutupi kekurangan yang kita miliki. Cara lain yang dapat dilakukan untuk menutupi kekurangan yang kita miliki. Kita dapat bekerja sama dengan orang yang memiliki kelebihan pada bidang yang menjadi kelemahan kita dengan begitu kelemahan kita dapat tertutupi dan saling melengkapi.

Sebagai contoh, kalian pasti mengetahui acara ini. Yaps... acara ini selalu mendapatkan rating yang tinggi. anda pasti mengenal sosok utama acara tersebut, pembawa acara yang sangat fenomenal: Tukul Arwana.

Ya... Tukul Arwana termasuk salah seorang yang memanfaatkan kelebihan yang ada di tengah-tengah "kekurangan" yang dimilikinya. Tukul sangat menyadari bahwa dirinya tidak tampan, ndeso katanya, katro dan bukan berasal dari keluarga berada. Tapi, dia memiliki satu kelebihan dalam dirinya yang mungkin tidak dimiliki oleh orang lain. Tukul merasa dirinya suka bercanda, kemampuannya untuk melawak menjadi sedikit potensi yang dapat dia kembangkan. Potensi tersebut dikombinasikan dengan semangatnya yang tidak pernah mau berhenti untuk terus belajar. Dan...., terbukti dari kariernya didunia hiburan yang saat ini dijalaninya terus melesat. Jadi, mulai sekarang marilah kita fokus pada kelebihan yang kita miliki daripada memikirkan kekurangan yang akan menghambat kesuksesan.

Mungkin sosok Tukul Arwana masih belum cukup bagi kamu untuk mendapatkan inspirasi dalam mengembangkan potensi yang kamu miliki. Tapi, kamu tidak perlu khawatir, cerita singkat berikut ini akan menjadi sumber inspirasi yang cukup menarik khususnya bagi anak muda atau remaja (kaya kita kita...). :D.

TITISAN SANG LEGENDA
Lahir di Rosario, Argentina pada 24 Juni 1987 seorang anak dari Ibu yang bekerja sebagai pembersih paruh waktu dan Ayah yang menjadi pekerja dipabrik baja. Anak kecil ini memiliki hobi sama dengan anak seumurnya, yaitu bermain sepak bola. Pada usia 5 tahun, ia pertama kali memutuskan untuk masuk klub sepak bola lokal didekat tempat tinggalnya. Minatnya yang semakin berkembang pada sepakbola menjadi alasannya untuk pindah ke klub yang lebih besar yang ada dikota kelahirannya, Rosario.

Pada usi 11 Tahun, anak ini didiagnosis mengalami kekurangan hormon pertumbuhan dan diharuskan terapi yang tentunya membutuhkan dana cukup besar. Meskipun dokter telah memberikan diagnosis, anak ini tetap bermain bola dengan sungguh-sungguh. Keahliannya bermain kulit bundar membuatnya dilirik oleh para pencari bakat.

Bakat alami yang dimilikinya menjadi alasan yang kuat bagi salah satu direktur dari klub sepak bola terbesar di eropa untuk menggaetnya. Akhirnya sang direktur klub olahraga tersebut menawarkan untuk membiayai pengobatan dan terapi yang akan dilakukan si anak itu. Namun, dengan catatan ia harus hijrah ke spanyol dan meninggalkan negasa asalnya, Argentina.

Pasti kalian tahu siapa sosok yang kita maksud, yaaa.... tepat sekali, tokoh yang dimaksud adalah Lionel Andres Messi atau lebih dikenal dengan Lionel Messi. Jika dilihat dari posturnya, tinggi badannya hanya 169cm dan perawakannya kecil, kita tidak akan mengira kalau dia akan menjelma sebagai seorang pesepakbola yang hebat.

Kita tidak akan membahas mengenai prestasinya di lapangan hijau karena prestasi yang telah diraih Messi BANYAAAAK BANGETTTT dan sepertinya akan terus bertambah. Terbukti dari terpilihnya Messi sebagai sala satu pemain terbaik didunia dan mampu membawa klubnya, Barcelona menjadi salahsatu klub terbaik sejagat. Pada usia yang masih sangat produktif bukan tidak mungkin dia akan terus mengukir namanya didalam sejarah sepak bola dunia.

Bagian yang sangat menarik dari kisah hidupnya adalah ketika dia mampu menyikapi hidupnya dengan sangat baik walaupun dokter telah mendiagnosis dirinya mengalami kekurangan hormon pertumbuhan. Mungkin saja kita akan lebih memilih untuk pasrah ketika kita berada pada posisi yang pernah dialami messi. Akan ada banyak alasan yang mengakibatkan kita tidak dapat menerima kekurangan yang diberikan Tuhan kepada kita.
Mungkin sebenarnya alasan-alasan itulah yang dapat mengakibatkan Messi menyerah, tetapi dia tidak menghiraukan berbagai alasan yang dapat menghambat cita-citanya tersebut. Semangat untuk terus berjuang akhirnya mengajaknya untuk bertemu dengan direktur olahraga FC Barcelona.

Mungkin cerita ini terlihat seperti kebetulan saja, ketika seorang calon pemain hebat dipertemukan dengan pencari bakat yang sangat jeli melihat potensi kehebatan bermain yang dimiliki calon pemain tersebut. Namun, tanpa adanya semangat dari Messi untuk terus berlatih dan pada akhirnya pencari bakat menemukannya, semua potensi itu akan sia-sia karena si pencari bakat tidak akan menemukan kelebihan yang dimiliki Messi.

Kamu pasti sering melihat bagaimana Messi memainkan kulit bundar, tim manapun pastinya akan sulit untuk menghentikan pemain yang bernomor punggung 10 ini. Kecepatan berlari dan akurasi tendangan yang cukup tinggi menjadi salah satu kelebihan yang dimiliki Messi. Kesuksesan yang diraih Messi saat ini semakin menunjukan bahwa seorang pemain terbaik dunia tidak aharus memiliki postur tubuh yang tinggi dan sempurna. Tapi, yang terpenting adalah seorang pemain harus memiliki tujuan yang baik dan didukung dengan semangat juang yang tinggi.

Sobat, tahukan kamu apa yang menjadikan seseorang tersebut menjadi hebat? Ya karena dia sangat menyukai apa yang dikerjakannya, tahu potensi yang dimiliki, tahu dengan jelas apa yang ingin dicapai, dan tahu bagaimana cara untuk mendapatkan atau mendekatkan diri dengan cita-cita yang ingin dia capai. Dengan kata lain, orang-orang yang berhasil pasti telah menemukan passion-nya, mengasah talent-nya, dan memberikan value terhadap apa yang dikerjakannya. Selanjutnya kita akan sama-sama menentukan value yang ada pada diri kamu sehingga profesi yang nantinya akan dijalankan tidak akan menjadi rutinitas harian, tetapi kamu akan membuatnya menjadi lebih bernilai

Senin, 10 November 2014

3 Keutamaan Shalat Dhuha

Shalat Dhuha memiliki keutamaan yang luar biasa. Berikut ini hadits-hadits yang menunjukkan 3 keutamaan shalat Dhuha:

1. Shalat Dhuha 2 rakaat senilai 360 sedekah

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى

“Setiap pagi, setiap ruas anggota badan kalian wajib dikeluarkan shadaqahnya. Setiap tasbih adalah shadaqah, setiap tahmid adalah shadaqah, setiap tahlil adalah shadaqah, setiap takbir adalah shadaqah, menyuruh kepada kebaikan adalah shadaqah, dan melarang berbuat munkar adalah shadaqah. Semua itu dapat diganti dengan shalat dhuha dua rakaat.” (HR. Muslim)

فِى الإِنْسَانِ ثَلاَثُمِائَةٍ وَسِتُّونَ مَفْصِلاً فَعَلَيْهِ أَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْ كُلِّ مَفْصِلٍ مِنْهُ بِصَدَقَةٍ. قَالُوا وَمَنْ يُطِيقُ ذَلِكَ يَا نَبِىَّ اللَّهِ قَالَ النُّخَاعَةُ فِى الْمَسْجِدِ تَدْفِنُهَا وَالشَّىْءُ تُنَحِّيهِ عَنِ الطَّرِيقِ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فَرَكْعَتَا الضُّحَى تُجْزِئُكَ

“Di dalam tubuh manusia terdapat tiga ratus enam puluh sendi, yang seluruhnya harus dikeluarkan shadaqahnya.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Siapakah yang mampu melakukan itu wahai Nabiyullah?” Beliau menjawab, “Engkau membersihkan dahak yang ada di dalam masjid adalah shadaqah, engkau menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan adalah shadaqah. Maka jika engkau tidak menemukannya (shadaqah sebanyak itu), maka dua raka’at Dhuha sudah mencukupimu.” (HR. Abu Dawud)

2. Shalat Dhuha 4 rakaat membawa kecukupan sepanjang hari


يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا ابْنَ آدَمَ لاَ تُعْجِزْنِى مِنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ فِى أَوَّلِ نَهَارِكَ أَكْفِكَ آخِرَهُ

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Wahai anak Adam, janganlah engkau luput dari empat rakaat di awal harimu, niscaya Aku cukupkan untukmu di sepanjang hari itu.” (HR. Ahmad)

3. Menjaga shalat Dhuha dicatat sebagai awwabiin


لا يحافظ على صلاة الضحى إلا أواب وهي صلاة الأوابين
“Tidaklah menjaga shalat sunnah Dhuha melainkan awwab (orang yang kembali taat). Inilah shalat awwabin.” (HR. Ibnu Khuzaimah; hasan)

Demikian 3 keutamaan Shalat Dhuha, semoga semakin menguatkan kita dalam mengamalkan salah satu sunnah Nabi ini. [IK/Bersamadakwah]

Kepada Siapa Kita Bersandar ?

ALHAMDULILLAH, pujian hanya milik Allah SWT. Dialah Allah, sebaik-baiknya pelindung dan tak ada satupun yang dapat menandingi-Nya. Shalawat dan salam untuk Nabi dan Rasul akhir jaman, Muhammad Saw.

Sahabatku, puncak kebahagiaan hidup adalah saat kita memberikan hati atau cinta kita untuk sesuatu. Baik itu makhluk, harta benda, popularitas, kekuasaan atau lainnya, kepada Allah, Dzat Yang Maha Kekal. Dengan cinta yang kita berikan, akan menjadi penuntun ke mana arah yang akan kita tuju dan menjadi.

Bila kita memberikan hati pada makhluk, maka bersiap-siaplah untuk kehilangan. Karena makhluk bersifat fana, suatu saat akan sirna. Bila harta, popularitas atau kekuasaan tempat hati kita bertaut, tunggulah! Suatu waktu kita akan terhinakannya. Ia akan membawa kita ke titik nadir, tempat di mana jiwa akan merasakan kegersangan yang tiada kira.

Makhluk, harta benda, popularitas hanya akan membawa kita menjadi para pencinta dunia. Para pencinta yang mengabdikan dirinya untuk mengejar dunia dan segala keindahannya. Para pencinta yang merasa bahwa ia telah mendapatkan kebahagiaan yang menjadi tujuan hidupnya. Namun hakikatnya, tujuan yang ia kejar adalah tujuan ke lembah kehampaan tanpa dasar.

Bagaikan Qais yang menjadi majnun (gila) karena cintanya pada Laila. Qarun yang rela mati tertimbun oleh harta, karena tak rela untuk meninggalkannya. Atau Fir’aun yang ditelan ganasnya laut merah, karena egonya akan popularitas dan kekuasaan.

Merekalah para pencinta dunia. Mereka yang namanya masih tergores dalam lembar sejarah sebagai orang-orang telah terpikat hatinya pada keindahan cinta dunia. Cinta pada makhluk, harta benda, popularitas atau kekuasaan.

Tidak cukupkah, para tokoh pencinta dunia itu menyadarkan kita akan hakikat hidup ini? Masih kurangkah tingkah polah mereka mengajarkan kita, ke mana hati ini hendaknya kita berikan? Atau kemanakah cinta harus kita sandarkan, agar tidak goyah saat kaki ini melangkah?

Jika cinta ini kita persembahkan pada Allah, Dzat Yang Maha Kekal, di mana jiwa kita ada di tangan-Nya, maka keberuntungan akan menyapa dalam setiap detik kehidupan kita.

Bila setiap waktu, hanya nama-Nya yang kita sebut. Bila setiap saat, hanya Allah yang menghiasi indahnya lafaz yang tak henti menyebut nama-Nya. Yakinlah surga telah lebih dahulu hadir mengiringi hidup kita.

Saat cinta pada makhluk, harta benda, popularitas atau kekuasaan hanya ibarat bunga mimpi yang ada, namun tidak nyata. Maka saat itulah, kita telah mendeklarasikan kebebasan yang hakiki. Kebebasan untuk menjadi hamba Allah yang sejati. Para pencinta akhirat.

Saudaraku, ingatkan diri kita akan hakikat hidup di dunia ini. Kita menjadi hamba Allah bukan hambanya dunia. Dunia adalah pelayan kita, bukan sebaliknya.

Sumber: Tauhid TV, www.smstauhiid.com

Minggu, 09 November 2014

Indahnya Shalat Tahajud

Di antara ajaran Rasulullah SAW yang paling dianjurkan adalah salat Tahajud (Salat malam). Sehingga. dalam literatur fikih islam, salat tahajud diberi hukum sunah muakkadah (sangat dianjurkan). Salat tahajud ini dilakukan pada malam hari setelah salat isya dan diisyaratkan tidur terlebih dahulu.

Pelaksanaan tahajud itu sendiri dikaitkan dengan waktu yang utama yaitu sepertiga malam terakhir yaitu sekitar jam 02.00-04.00 bahkan, ada yang menyebut waktu salat tahajud adalah disaat ketika kita dapat mendengar suara jarum yang jatuh diatas lantai.

Allah SWT berfirman,"dan pada sebagian malam, lakukanlah sholat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu, semoga tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang mulia" (QS. Al-Israa: 79).

Untuk melaksanakan salat tahajud memang merupakan perjuangan yang sangat berat. Apalagi ia dilaksanakan pada waktu manusia sedang enak-enaknya tidur, dalam udara yang dingin, bahkan harus berperang melawan hawa nafsu dan setan yang akan selalu membisikkan untuk tidur lelap. Namun, Allah Maha Mengetahui setiap ibadah hamba-hambanya dan Maha Penyayang terhadap usaha taqaruub kepadanya, Dia memberikan fadhilah (keutamaan) yang besar kepada siapa saja yang melakukan ibadah sunah ini. Maupun dihadapan-Nya nanti, sebagaimana tersirat dalam ayat diatas.

Rasulullah SAW bersabda, "Tuhanmu yang maha pemberi berkah dan Maha Mulia, selalu turun ke langit dunia setiap malam, pada paruh waktu sepertiga malam terakhir, dan dia berfirman,'Barang siapa yang berdo'a kepadaku maka akan aku kabulkan, barangsiapa mengajukan permintaan kepadaku akan aku berikan dan barangsiapa memohon ampun kepadaku akan aku ampuni." (HR. Bukhari dan Muslim).

Itulah tiga keutamaan Shalat Tahajud dan ketiganya pula merupakan harapan setiap hamba. Setiap hamba pasti berharap doanya terkabul, permintaannya diberikan dan dosa-dosa diampuni. Alangkah indahnya jika setiap kita ukat Islam bisa bangun malam, lalu shalat tahajud dan kemudian dilanjutkan dengan do'a. Do'a untuk kebaikan dan kesejahteraan bangsa, meminta rezeki yang halal, ilmu yang bermanfaat, serta kehidupan yang baik (Hasanah). Kita memohon ampun setiap dosa yang kita sengaja maupun tidak sengaja, dengan segala pengakuan khilaf kepada Rabb yang Maha Pengampun.

Selain keutamaan, ada juga keajaiban Shalat Tahajud ini. Sejarah telah mencatat bahwa Rasulullah SAW dan para sahabatnya selalu melaksanakan salat Tahajud. Keajaiban melaksanakan Salat Tahajud telah tercatat dalam Al-Quran. Ada beberapa keajaiban salat tahajud, yakni:

1. Shalat Tahajud sebagai tiket masuk surga.
Abdullah Ibn Muslim berkata, "Kalimat yang pertama kali ku dengar dari Rasulullah SAW saat itu adalah, "Hai sekalian manusia! sebarkan salam, bagikanlah makanan, sambungkanlah silaturahmi, tegakanlah salat malam saat manusia lainnya sedang tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat." (HR. Ibnu Majah).

2. Amal yang menolong di akhirat.
Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya orang orang yang bertaqwa berada didalam taman-taman surga dan dimata air-mata air, seraya mengambil apa yang Allah berikan kepada mereka. Sebelumnya mereka adalah telah berbuat baik sebelumnya (didunia), mereka adalah orang-orang yang sedikit tidurnya diwaktu malam dan diakhir malam mereka memohon ampun kepada Allah." (QS. Az-Zariyat: 15-18).

3. Pembersih penyakit hati dan jasmani.
Salman Al Farisi berkata, Rasulullah SAW bersabda, "dirikanlah salat malam, karena sesungguhnya salat malam itu adalah kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kamu, (salat malam dapat) mendekatkan kamu kepada tuhanmu, (salat malam adalah) sebagai penebus perbuatan buruk, mencegah berbuat dosa dan menghindarkan diri dari penyakit yang menyerang tubuh." (HR. Ahmad).

4. Sarana meraih Kemuliaan.
Rasulullah SAW bersabda, "Jibril mendatangiku dan berkata, "Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu, karena engkau akan mati, cintailah orang yang engkau suka, karena engkau akan berpisah dengannya, lakukanlah apa keinginanmu, engkau akan mendapatkan balasannya, ketahuilah bahwa sesungguhnya kemuliaan seorang muslim adalah shalat waktu malam dan ketidakbutuhannya dimuliakan orang lain." (HR. Albaihaqi)

5. Jalan mendapatkan Rahmat Allah SWT.
Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Semoga Allah merahmati laki-laki yang bangun malam, lalu melaksanakan shalat dan membangunkan istrinya, jika sang istri menolak, ia memercikan air di wajahnya. Juga, merahmati perempuan yang bangun malam, lalu shalat dan membangunkan suaminya, jika sang suami menolak, ia memercikan air diwajahnya." (HR. Abu Daud).

6. Sarana pengabulan permohonan.
Allah SWT berjanji akan mengabulkan doa orang-orang yang menunaikan salat tahajjud dengan ikhlas. Rasulullah SAW bersabda, "dari jabir berkata, bahwa Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya dimalam hari, ada satu saat yang ketika seorang muslim meminta kebaikan dunia dan akhirat, pasti Allah memberinya, itu berlangsung setiap malam (HR. Muslim).

Jumat, 07 November 2014

Aku Mencintaimua, Ayah!

Aku terjatuh, ia membangunkanku. Aku menangis, ia selalu menenangkanku. Aku terlelah, ia menyemangatiku. Aku menyerah, ia memberiku motivasi untuk selalu bangkit dan mencoba lagi. Ialah sumber kasih yang takkan pernah terkikis waktu.

Kepala rela ia jadikan kaki, kaki rela ia jadikan kepala. Kadang di tengah sunyinya malam ia berada di luar rumah untuk mencari nafkah. Sosok yang selalu menjadi inspirasi saat aku mulai mencari makna tentang kasih. Sosok gagah nyaris tak pernah kulihat ia meneteskan air mata di pipi. Ia adalah Ayahku tercinta.

Dahulu saat aku baru melihat bumi, aku yakin ia adalah sosok yang mengumandangkan adzan di telingaku, meski aku tidak ingat kejadian tersebut. Ialah sosok imam bagi keluargaku, sosok teladan bagi anak-anaknya.

Tangannya memang tak selembut kapas, tapi aku yakin ia menimangku selembut hati saat Ibu kelelahan. Ia juga yang mengganti pakaianku saat Ibuku terjaga dalam tidurnya. Ia sosok lelaki yang rela membantu pasangannya saat kelelahan.

Aku ingat kejadian saat balita ia mengajarkanku mengendarai sepeda. Aku terjatuh, ia langsung membangunkanku. Aku menangis, ia selalu menenangkanku. Aku lelah, ia memberiku semangat, Aku menyerah, ia memberiku motivasi untuk selalu bangkit dan mencoba lagi.

Kenangan-kenangan tersebut terukir indah layaknya ketenangan saat aku melihat ombak di tepi pantai. Walaupun ombaknya tinggi aku tetap merasa bahagia dan tenang karena aku tahu ombak itu karya Ilahi. Layaknya Ayahku yang ada di antara miliaran manusia karena kehendak Allah SWT.

Kerja keras dan usahanya tak akan pernah tergantikan. Peluh yang mengaliri seluruh tubuhnya tak mampu aku ringankan. Aku hanya bisa menyaksikan air wajah yang kelelahan saat ia pulang memberikan salam dan aku membuka pintu rumah.

Saat aku pandang wajahnya yang mulai menua. Aku tersadar, superhero sesungguhnya bukanlah spiderman yang mampu merayap di gedung-gedung tinggi, bukan juga superman dengan kekuatan supernya, bukan juga sosok superhero Marvel lainnya.

Ayahku, ialah sosok superhero sesungguhnya. Melawan kejahatan dan keburukan demi menjaga keluarga tercinta. Memberi nafkah kepada keluarga dengan susah payah. Tak pernah kenal kata lelah maupun menyerah. Aku yakin semua ia lakukan demi mengharap ridha Allah SWT.

Kasih sayang lembut yang ia berikan takkan pernah habis dimakan waktu. Selalu membekas di ruang kalbu. Hatiku takkan pernah menipu, ia adalah salah satu alasan aku menginjakkan kaki di muka bumi. Aku yakin kehadiranku di sini memiliki tujuan, yang salah satunya adalah untuk membahagiakannya dengan segala hal yang kupunya.

Doa adalah salah satu kasih sayang dan cara aku membalas segala yang telah ia berikan. Kuangkat kedua belah tanganku di setiap waktu shalat. Memohon kepada Allah SWT segala harapan dan cita tentangnya. Agar selalu dijaga kesehatan dan kekuatan iman serta Islam. Agar ia dijauhkan dari segala bahaya dan fitnah.

Selain doa, aku hanya bisa memberikan senyuman, canda tulus serta berusaha menjadi anak yang lebih baik untuknya. Aku yakin dengan hal tersebut setidaknya ia akan paham bahwa aku juga sangat mencintainya. Meski cintaku takkan pernah mampu menandinginya. Cinta sepanjang masa, Cinta sepanjang jalan. Cinta yang takkan pernah kadaluarsa.

Ayah, engkaulah pahlawan sesungguhnya. Engkau sinar yang mampu menerangi saat diriku redup. Engkau sumber kehidupan. Terima kasih atas kasih dan cinta yang takkan pernah terhenti. Aku mencintaimu layaknya udara murni, meski doaku tak terlihat aku akan selalu ada untukmu. Aku sangat mencintaimu, Ayah.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/10/31/59259/aku-mencintaimu-ayah/#ixzz3IQoZIEvN

Kemewahan Bukan Garansi Pernikahan Langgeng

Hampir dua minggu infotainment mengupas persiapan pernikahan artis ternama di negeri ini, penayangan tidak di satu stasiun televisi melainkan di beberapa TV swasta, waktu penayangan juga hampir di setiap waktu dan cara menayangkannya pun berbeda-beda mulai dari kisah sang mantan, sisi Undangan, tamu, baju pengantin, konsep yang dipakai, rumah baru, kado yang diberikan oleh sahabat maupun keluarga dan hingga nyekar. Apa yang ditayangkan semua dipenuhi kemewahan dan keglamoran. Siapapun yang menonton tentu terpana dan terpesona dengan konsep pernikahan para artis yang ditaburi bunga-bunga yang penuh dengan kesempurnaan. Dan bukan untuk kali ini saja para pesohor diliput oleh media saat akan menikah dan sudah teramat sering. Mungkin bagi Event Organizer pernikahan dengan paradigma mewah merupakan peluang bagi mereka sedangkan yang melaksana pernikahan tentu ini sangat merugikan.

Jika ditinjau dari sisi positif tentu sangat menginspirasi sebagian masyarakat yang akan mendesain pernikahan, bagi sisi media tentu memberi nilai kemanfaatan karena dibanjiri berita, tidak perlu mencari-cari berita, dan kebanjiran iklan-iklan. Tetapi ditinjau dari perspektif sisi negatif tentu sangat tidak mendidik karena mengajari masyarakat untuk melaksanakan pernikahan dengan kecemerlangan dunia. Bagi yang punya uang tentu hal seperti tidak masalah, wajar dan lumrah saja sedangkan bagi masyarakat tidak mampu ingin mengikuti pernikahan para artis tentu tidak masuk akal. Mendorong masyarakat untuk mendesain pesta bak para ratu dan raja. Meskipun pernikahan sekali seumur hidup, tidak juga dibenarkan menikah seperti itu yang seolah-olah membanggakan, seolah menceritakan bahwa mereka orang terpandang, seolah merupakan hal yang wajib dan seolah jika tidak melaksanakan pesta dengan tidak mewah akan mendapat kritikan jelek dari lingkungan.

Sangat besar pengaruhnya media atau artis yang menikah diekspose oleh media karena secara tidak langsung mendorong masyarakat untuk berpesta seperti itu jua dan tidak hanya itu bahkan masyarakat sekarang sudah terbiasa melakukan foto prewedding, menggunakan pakaian seragam dan konsep sudah liberalisasi. Jika boleh melihat masa lalu, sangat jarang masyarakat memakai konsep itu ketika pernikahan. Mungkin inilah namanya perubahan, lain dulu lain sekarang karena saat ini sudah modern sehingga menikah harus bak artis seperti yang ditonton oleh mereka.

Padahal dalam Islam pernikahan cukup disederhanakan tidak perlu berlebihan-lebihan yang penting rukun nikah terpenuhi, apalagi sampai memaksakan diri dengan menggadaikan harta, meminjam ke sana-sini termasuk pinjam dari bank demi sebuah pencitraan di tengah masyarakat. Sebab apa? Andailah di tengah masyarakat tidak melaksanakan pesta penuh euforia, bisa-bisa mendapat label, merasa tidak enak dari masyarakat ataupun dari keluarga. Inilah bentuk kesalahpahaman masyarakat yang harus diluruskan oleh manusia beriman. Diperparah lagi pernikahan di zaman sekarang membutuhkan finansial yang mapan sebab segala barang serba mahal. Bukan tidak dibenarkan melaksanakan syukuran pernikahan, sangat diperbolehkan akan tetapi lebih elok bentuk syukuran itu disederhanakan. Toh tujuan resepsi bukan untuk menunjukkan diri bahwa kita mampu melaksanakan pesta pernikahan dengan kegemerlapan, membedakan si kaya dengan si miskin, membedakan keluarga terpandang dengan keluarga biasa melainkan tujuan resepsi adalah meminta doa dari para tamu agar diberkahi menjadi keluarga sakinah mawaddah warrahmah.

Nyatanya, begitu banyak mereka-mereka yang melaksanakan pernikahan mewah dengan konsep yang sangat spektakuler tetapi apa yang terjadi? Melainkan perceraian, terjadi perselingkuhan dan siap-siap membayar utang setelah menikmati pesta pora. Bahwa kemewahan tidak menjamin pernikahan itu langgeng, bahagia dan sakinah. Sangat menyedihkan bukan! Sudah melaksanakan pernikahan dengan penuh kemewahan tetapi akhirnya menyedihkan. Ada pula di sekitar kita menikah hanya ijab qabul saja tidak dimeriahkan dengan resepsi pernikahan, tetapi sungguh pernikahan mereka penuh nuansa cinta dan romansa sakinah mawaddah warrahmah.

Apa yang membuat pernikahan penuh keberkahan karena dilatarbelakangi niat yang suci ingin menjaga hati agar tidak terkotori, menerima kekurangan masing-masing, terus menerus saling memahami dan selalu berkomunikasi atas aturan cinta-Nya tidak perlu dengan pesta mewah yang penting bagaimana memahami makna ijab qabul, bagaimana meresapi janji-janji dilontarkan pada Allah langsung dan tetap setia menjadi sepasang kekasih hingga maut memisah. Sebab Allah tidak melihat dan mengukur kebahagiaan dalam pernikahan dari pesta melainkan dari niat yang suci untuk menikah dalam rangka untuk beribadah pada-Nya.

Mungkin ini merupakan pilihan bagi yang akan menikah atau akan resepsi! Silakan memilih yang sesuai dengan kesanggupan dan selera jangan memaksa apalagi sampai membebani keluarga. Akan lebih elegan pernikahan dilaksanakan dengan konsep kesederhanaan walaupun sebenarnya mampu berpesta pora. Tapi itu jarang ditemui di abad sekarang karena di zaman digitalisasi lebih mementing pencitraan dibanding niat yang suci.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/10/16/58497/kemewahan-bukan-garansi-pernikahan-langgeng/#ixzz3IQkALaio

Menikahlah ! Maka Keajaiban

Jaminan Allah adalah kepastian. Dia mustahil mengingkari apa yang telah menjadi janji suci-Nya. Semua yang tersebut di dalam al-Qur’an, diperjelas oleh banyak sabda sang junjungan, adalah garansi pasti yang tak terbatas jenis kerusakan dan masanya. Maka merugilah mereka yang masih meragukan Allah Swt dan apa yang telah diikrarkan-Nya dalam kalam suci.

Menikah, dijanjikan oleh Allah Swt sebagai salah satu pembuka pintu rezeki. Difirmankan dalam kalam-Nya, jika kalian fakir, maka menikahlah. Lanjutannya, kelak Allah Swt akan membuatmu menjadi kaya.

Inilah kebenaran firman-Nya. Sebab Dia Mahatahu, meski terjamin, akan banyak hamba-Nya yang ragu dalam melangkah dan menjalani ikatan suci bernama pernikahan itu. Meskipun, lagi-lagi, sudah amat banyak bukti dari mereka yang telah mengambil jalan kebaikan itu.

Si Ayah, sebutlah demikian, disibukkan dengan ritual pekanan, Senin. Si Sulung dan adiknya kembali ke kampus, anak ke tiga bersekolah di tingkat akhir Sekolah Menangah Atas. Sedianya, Ibunya harus ke sekolah juga. Sebab sedang menjenguk anak ke lima dan enam di pesantren, kali ini rumah sepi tanpa kehangatannya.

Maka sibuklah ia yang disebut Ayah dalam cerita. Mulai menyiapkan minuman untuk buah cinta, mengantarnya ke sekolah, hingga membeli sarapan untuk mertua dan anaknya yang lain.

Sejak malamnya, listrik rumahnya sudah berteriak-teriak; mengeluarkan bunyi mirip alarm yang menandakan bahwa kuotanya pulsa hampir habis. Sehingga harus diisi agar lampu dan perangkat listrik lain di rumah yang baru dikontrakanya itu tidak padam seketika.

Setelah anak-anak berangkat semua, datanglah Ibu Mertuanya. Berkunjung sembari bertanya tentang listrik yang hampir habis kuotanya itu, “Nak, pulsa listrik akan diisi kapan? Uangnya sudah ada?”

Dengan senyum, si Ayah menjawab santai, penuh keyakinan, “Insya Allah siang ini, Mah. Insya Allah, uangnya ada.”
Maka setelah sedikit bincang ringan, Ibu Mertua beranjak kembali ke kediamannya. Semoga jawaban Ayah barusan, bisa membuatnya tenang.

Waktu pun berjalan. Si Ayah melanjutkan aktivitas seperti biasanya. Di sepanjang pagi itu, ada banyak hal yang harus dirampungkan. Mulai diskusi di forum yang menjadi spesialisasi pekerjaannya, hingga urusan domestik yang sudah biasa menjadi kesukaannya; wujud cintanya yang belum sempurna.

Ternyata, Sang Mertua bolak-balik untuk memastikan. Diulanglah beberapa kali pertanyaan serupa. Kemudian dijawab dengan redaksi yang tak berubah. Hanya satu niat Ayah, “Agar mertuanya tidak khawatir.” Sama sekali; bukan berbohong.

Ketika kunjungan Mertua terakhir kalinya, saat terdengar salam khasnya, Si Ayah tengah mendirikan Dhuha’. Sebagai wujud menjalankan sunnah dan amalan yang tengah didawamkannya. Berharap, menjadi amal unggulan dan bisa menolong pelakunya kelak di surga.

Selepasnya, beranjaklah ia melihat ponselnya. Di sanalah ia bisa beraktivitas. Mulai berkarya hingga belajar berbisnis. Meski, kecil-kecilan.

Seperti diantarkan, meski tak ada angin atau hujan, terbelalaklah mata Ayah ketika menabrak sebuah pesan yang menunjukkan bukti pembayaran salah satu kliennya. Hal itu sama sekali tak direncanakan, dia sendiri tak pernah mengerti akan diantarkan rezekinya lewat jalur itu.

Selepas ucap hamdalah dan terus berdzikir, datanglah ia ke rumah mertuanya. Seraya mengunci pintu dan menitipkan kuncinya, ia berpamit, “Mah, keluar sebentar ya? Mau ngisi pulsa listrik.” Sang Mertua, tersenyum lebar sembari memberi izin, “Iya, Nak. Hati-hati.”

Maka berjalanlah ia dalam syukur tak terukur. Rupanya, yakinnya hari itu diganjar tunai oleh Sang Maha Pemberi rezeki. Sesampainya di tempat pengecekan uang, tersebutlah angka tertentu seperti yang dikabarkan oleh sang klien. Ternyata, jumlahnya dua kali lipat dari niat yang dia bisikkan dalam hati ketika hendak mengisi pulsa listrik di pagi hari tadi.

Ketika sore harinya Sang Mertua kembali bertandang, dikisahkanlah riwayat tersebut. Sang Mertua terlihat tak menggerakkan mulut seraya bertahmid. Katanya, “Masya Allah, alhamdulillah ya, Nak. Padahal Mamah juga ada uang.”

Hanya tersenyum, Si Ayah yang merupakan menantunya itu menjawab, “Alhamdulillah, Mah. Kan, tadi pagi bilang, ‘Insya Allah, ada.’ Dan benar-benar ada di siangnya.”

Demikianlah keajaiban itu. Ketika dibincang, akan semakin banyak daftar dan berbagai jenisnya. Inilah pelajaran hidup, bagi siapa yang mau memungut dan memanfaatkannya. Intinya bukan hanya pada seberapa banyak membaca dan memahami. Lebih jauh, ini adalah terkait seberapa beranikah diri untuk menjalankannya.

Karena, anda tidak akan benar-benar tahu sebelum mencobanya sendiri. Tak percaya? Buktikan saja sendiri! [] 

Bahaya Mabuk Pujian

Dipuji, dikagumi, diperlakukan spesial itu sangat nikmat, sehingga banyak orang yang sangat merindukannya.

Dan bagi yang tak hati – hati dan tak kuat iman, akan banyak kerusakan yang timbul bila sudah diperbudak dan mabuk pujian.

Seperti orang mabuk; berpikir, berbicara, bersikap dan mengambil keputusan menjadi tak normal / error.

Hati akan cenderung hilang kepekaan, mudah tersinggung dan sakit hati bila orang tak memuji atau mmperlakukannya tak sesuai harapan.

Hidup selalu galau, sangat cemas orang tak lagi memperhatikannya. akal selalu berputar akibatnya jadi kurang peduli kepada yang lain, selalu orientasi diri sendiri.

Sibuk sekali membangun ‘kemasan’/topeng’ demi penilaian orang walau harus berhutang atau menanggung resiko yang berat.

Orang – orang disekitarnya pecinta penilaian manusia, tak akan merasa nyaman, karena yang bersangkutanpun tak nyaman dengan dirinya sendiri.

Hubungan dengan Allohpun semakin terhijab, walau banyak ilmu agama dan rajin ibadah, karena di hatinya bukanlah Alloh yang dituju melainkan sibuk dengan penilaian makhluk.

Mengapa orang memuji? Karena mereka tidak tahu siapa diri kita. Kalau mereka tahu siapa kita sebenarnya, pasti mereka tak akan memuji. Celakanya kalau dipuji, kita menikmati sesuatu yang sesungguhnya tidak ada pada diri ini.

Pujian dapat membuat kita jadi yakin seperti apa yang dikatakan orang, sampai kita tidak jujur kepada diri sendiri. Sebenarnya yang tahu seperti apa diri ini adalah kita sendiri. Orang yang memuji hanya menyangka saja.

Seharusnya, pujian itu membuat kita malu. Karena apa yang mereka katakan, sebenarnya tidak ada pada diri kita. Tapi bagi para pecinta dunia, mereka akan menikmati sesuatu yang tidak ada pada dirinya. Artinya, dia berbohong pada dirinya sendiri.

Bahayanya pujian itu ada tiga :

Pertama, kita jadi terpenjara oleh pujian orang. Kita takut kehilangan segala pujian pada diri. Akibatnya, kita melakukan apa saja supaya pujian itu tidak hilang. Orang yang dipuji dan memercayai pujian, dia tidak akan menerima nasihat dari orang lain. Karena dia benar-benar termakan, terbelenggu dan terpenjara oleh pujian tersebut.

Kedua, dia sangat sulit mengakui kekurangannya. Ini adalah malapetaka. Orang yang tidak bertaubat, dialah orang zalim. Orang yang tidak mau mengakui dosanya itu termasuk zalim. Kalau kita telah menyakiti orang, tetapi tidak mengakui, berarti kita sudah zalim. Zalim pada orang dan pada diri sendiri.

Ketiga, kalau orang sudah senang dipuji, maka tidak ada ikhlas dalam dirinya. Karena segala perbuatan yang dilakukannya hanya untuk mempertahankan pujian. Dia akan mengatur penampilan dan sikapnya agar terlihat baik bagi orang. Apakah mungkin orang seperti ini akan ikhlas? Jawabannya tidak! Karena dia melakukan apapun bukan untuk Allah lagi, tapi karena untuk pujiannya. Tiap hari pekerjaannya hanya berpikir bagaimana agar tetap dianggap teladan.

Seorang anak yang sudah terbiasa dipuji, berarti kita merusak dia. Dia akan merasa dirinya istimewa. Dia merasa dirinya khusus dan merasa dirinya lebih dari orang lain. Maka tunggulah ketika dia dewasa, dia tidak akan memandang orang tuanya. Karena dia dibesarkan untuk tidak jujur melihat dirinya. Dia dibesarkan untuk melihat dan membangun topengnya.

Rasulullah SAW bahkan amat tidak berkenan bila melihat orang lain memuji-muji:

“Bila kamu melihat orang-orang yang sedang memuji-muji dan menyanjung-nyanjung maka taburkanlah pasir ke wajah-wajah mereka.” (HR. Ahmad)

Jangan menikmati pujian atau jangan termakan terjebak pujian. Pujian itu bisa memabukkan diri seseorang. Segalanya bisa jadi alat untuk membuatnya dipuji. Berbuat sederhana pun bisa menjadi alat pujian, yakni, supaya dinilai tawadlu. Padahal dengan pujian-pujian itu hidupnya bisa menjadi munafik. Orang-orang di sekitarnya juga tidak nyaman, karena orang-orang tidak bisa dibeli hatinya dengan kepura-puraan.

Islam mengajarkan kita menjadi orang yang asli. Murni tanpa rekayasa dan kepura-puraan. Apa yang kita perbuat tujuannya cuma satu agar Allah menerima (ridha). Tidak ada masalah dengan penerimaan dan penghargaan dari orang lain. Yang penting apa yang kita lakukan benar, tidak menyakiti dan melanggar hak orang lain.

Tidak ada kepura-puraan, tidak ada kepalsuan. Antara perbuatan dan perkataan sama, maka akan tercipta rasa nyaman. Nyaman untuk kita, nyaman untuk orang di sekitar kita. Kalau berpura-pura, kita akan merasa tidak nyaman. Orang lain pun juga merasa sama, tidak nyaman.

Islam itu nyaman di hati betapapun badai harus dihadapi. Kenapa? Karena tidak ada kepura-puraan.



Ditulis oleh: KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym )

Beliau adalah pengasuh pondok pesantren Daarut Tauhiid Bandung – Jakarta.

Sumber: smstauhid.com

Kamis, 06 November 2014

Kisah Mengharukan, Makan Malam Terakhir Bersama Ibu

Ada banyak catatan yang mesti diperhatikan oleh seorang anak selepas menikah. Baik ia sebagai anak perempuan maupun laki-laki. Khusus bagi laki-laki, ada penekanan dalam hal ini. Sebab, hingga kapan pun, surga bagi seorang anak letaknya ada pada kaki ibunda.

Selain itu, selepas menikah, bakti seorang anak sama sekali tak otomatis terputus dengan alasan telah memiliki keluarga sendiri. Dalam hal ini, penting kiranya bagi kedua pasangan dan keluarga terdekat untuk saling mengingatkan.

Jangan sampai kisah ini terjadi antara diri dan ibu kita. Sebuah kisah haru nan memilukan ini, patut dijadikan cermin bagi kehidupan kita; sebagai anak maupun orangtua.

Sebutlah namanya Fulan. Sudah 21 tahun ia menikah dengan seorang wanita bernama Fulanah. Tepat di usia ke 21 pernikahannya, sang istri bertanya menawarkan, “Mas, tak berkenankah kau makan malam bersama seorang wanita?” Sang suami yang memang tak memiliki saudara dan anak wanita itu bertanya kebingungan, “Maksudmu?”

Lantas dijelaskanlah oleh sang istri, “Esok, keluarlah untuk makan malam bersama ibu.” Aduhai, rupanya Fulan ini amat sibuk mengurusi keluarga, pekerjaan dan kehidupannya. Lanjut Fulanah, “Sudah 21 tahun –sejak menikah denganku- kau tak pernah makan malam bersama ibu,” katanya menerangkan, “Teleponlah beliau, ajaklah makan malam. Beliau pasti amat mendambakan kebersamaan denganmu.”

Segeralah Fulan menelepon sang ibu. Dalam perbincangan udara itu, disampaikanlah maksudnya. Sang ibu yang telah lama menjanda dan hidup bersama keluarga lainnya itu amat sumringah mendengar ajakan itu. Meskipun, ada rasa tak percaya akan ajakan mengagetkan dari anak yang amat disayanginya. Pasalnya, masa 21 tahun bukanlah bilangan waktu yang sebentar.

Hari yang direncanakan pun menyapa. Fulan menuju rumah ibunya. Sesampainya di depan rumah sang ibu, sosok janda yang sudah lama mendambakan kebersamaan bersama anaknya itu tengah menunggu, tepat di rahang pintu. Tak ingin diketahui oleh saudaranya yang lain, sang ibu langsung menyambut, menghampiri dan bergegas masuk ke dalam mobil.

Di dalam mobil, terjadilah perbincangan kecil antara keduanya. Tentang rumah makan dan menu terbaik yang hendak mereka tuju dan santap malam ini. Tak lama, tibalah mereka di tempat makan terbaik di kota itu.

Lamat-lamat, sang anak memerhatikan pakaian yang dikenakan oleh ibunya. Agak sempit. Rupanya, itu adalah pakaian terakhir yang diberikan oleh almarhum suaminya. Duhai, sang anak ini sampai lupa membelikan pakaian untuk ibunya.

Maka datanglah pelayan pembawa menu. Disodorkanlah daftar makanan yang hendak dipesan. Ternyata, sang ibu sudah tak kuasa membaca. Dengan senyum, Fulan menawarkan, “Aku bacakan menunya. Tunjuk saja menu apa yang Ibu kehendaki.”
Lantas dipesanlah aneka jenis makanan yang dihidangkan, tak lama kemdian.

Bersebab bahagianya yang memuncak lantaran diajak makan malam oleh anak kesayangannya, selera makan sang ibu tenggelam seketika. Sama sekali tak berminat untuk mencicipi, apalagi melahapnya. Sosok yang sudah hampir terbenam masa hidupnya itu hanya memerhaikan anaknya, dengan cinta dan rindu yang kian bertambah.

Di tengah menikmati menu makan malamnya, Fulan berkata, “Bu, ini yang pertama sejak 21 tahun yang lalu. Maafkan anakmu ini. Esok kita akan makan malam lagi untuk yang kedua.”

Mendengar kalimat itu, mata sang ibu berbinar sumringah. Binar bahagia itu semakin bertambah hingga kedua insan itu pulang. Sang anak mengantarkan ibunya ke kediamannya, sementara ia kembali ke rumahnya.

Waktu-waktu selepas itu, adalah waktu menuggu nan membahagiakan bagi sang ibu. Ditungguilah ponselnya guna berharap panggilan dari anaknya. Sementara itu, di belahan tempat lain, sang anak tetap sibuk dengan dunia, pekerjaan dan kehidupannya. Ia, benar-benar lupa dengan janji yang diungkapkannya sendiri.

Lantaran usia yang menua, sang ibu pun sakit. Makin hari, bertambah parah sakitnya. Alasan sibuk pun membuat Fulan tak kunjung membesuk ibunya. Hingga akhirnya, wanita berhati lembut itu wafat sebelum sang anak sempat menjenguknya.

Proses pemakaman pun berlangsung dengan lancar. Ada haru nan pilu yang menelisik ke dalam hati Fulan. Perasaan bersalah selalu datang belakangan. Andai perasaan itu bisa datang lebih dulu, mungkin saja ia akan bisa menebus dosanya.

Lepas pulang dari pemakaman, ponselnya bergetar. Diangkatklah oleh si Fulan. Tertera dalam layar, pemanggil adalah ruma makan tempat ia dan ibunya makan malam tempo hari. “Halo, Pak Fulan,” ucap suara dari seberang. Lepas disahut, penelepon melanjutkan, “Maaf, Pak. Dalam catatan kasir kami, bapak telah memesan tempat makan malam untuk dua orang. Tagihannya suda dibayar oleh Ibu anda.”

Entahlah apa yang dirasa olehnya. Tanpa penutup, dimatikanlah ponselnya sembari bergegas menuju rumah makan tersebut. Sesampainya di sana, sang kasir menyerahkan sebuah pesan tertulis tangan. Dari sang ibu. Tertera di dalamnya, “Nak, aku mengerti. Malam ini adalah makan malam terakhir kita. Meski kau sampaikan akan ada yang kedua, aku tak terlalu yakin. Maka, makanlah bersama istrimu. Aku sudah membayarnya untumu dengan uang Ibu.”

“Ibu, Ibu, Ibu,” demkianlah pesan Rasulullah Saw. Sosok mulia itu harus didahulukan dari sosok bapak. Sosok ibu adalah mutiara kebaikan nan tak tergantikan. Selalu ada mutiara yang bisa digali darinya. Pasti ada hikmah dari wanita yang mungkin saja, sudah kita sia-siakan sejak lama.

Rabbi, ampuni dosa kami, dosa bapak dan ibu kami. Sayangilah keduanya, sebagaimana mereka menyayangi kami di masa belia. [Pirman]

*Disadur bebas dari buku 1001 Alasan Kamu Harus Sayangi Ibumu, Monde Ariezta

Sumber: kisahikmah.com

Masuk Surga Karena Seekor Lalat

Surga adalah karunia yang diberikan Allah Swt kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Seorang hamba tidak akan masuk surga karena amalnya. Ia hanya bisa menjejaki dan menetap di dalam tempat penuh kenikmatan itu karena Rahmat-Nya semata. Dalam hal ini jumhur ulama bersepakat bahwa amal hanya menjadi salah satu sarana agar Allah Swt menurunkan Rahmat-Nya kepada seorang hamba. Meskipun, disepakati pula, bahwa Allah Swt berkehendak melakukan apa pun sesuai Kuasa-Nya.

Seorang hamba bisa dimasukkan ke dalam surga lantaran amalannya yang terlihat sederhana di mata manusia, namun besar dalam penilaian Allah Swt. Pun, sebaliknya. Seorang hamba yang terlihat memiliki banyak amal, ilmu, harta, pengikut dan karunia lainnya, bisa pula dimasukkan ke dalam neraka lantaran Allah Swt menilainya sebagai bentuk kesombongan dan kufur nikmat.

Dalam hal ini, keikhlasan dan ilmu menjadi sangat penting. Sebab, setelah mati, untuk kembali ke dunia dan menyesali diri amatlah tidak mungkin. Mustahil!

Dalam salah satu riwayat mulianya, Rasulullah Saw menyampaikan kepada sahabat-sahabatnya. Kata beliau, seseorang bisa masuk surga atau neraka karena seekor lalat. Sebab belum mengerti, para sahabat agung itu pun bertanya, bagaimana maksudnya ya Nabiyullah?

Manusia terbaik sepanjang sejarah umat manusia ini pun mengisahkan dua orang yang melewati sebuah pemukiman penyembah berhala. Bagi semua yang melewati jalan di pemukiman itu, berlaku hukum kewajiban memberikan persembahan kepada berhala-berhala.

Maka tersebutlah orang pertama. Dikatakan padanya, “Berikan persembahan kepada berhala-berhala kami,” ujar pemimpin kaum sesat itu sembari mengancam. Lantaran tak memiliki apa pun, musafir yang lewat itu menjawab lugas, “Aku tak miliki sesuatu pun. Apa yang bisa kupersembahkan?” Kepadanya disampaikan peraturan minimal terkait kriteria persembahan kepada berhala, “Berikan persembahan, meski hanya dengan seekor lalat.”

Duhai malangnya. Ternyata orang pertama ini berhasil menemukan lalat yang telah mati, kemudian menyajikannya kepada berhala-berhala itu. Tak lama kemudian, selepas melakukan kekeliruan terbesar dalam hidupnya, musafir pertama ini mati setelah diberi izin untuk melewati pemukiman penyembah berhala tersebut. Kata Rasulullah Saw sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad ini, karena perbuatannya itu, ia dimasukkan ke dalam neraka. Naudzubillahi min dzalik.

Selanjutnya, lewatlah musafir kedua. Dengan kasus dan permintaan yang sama. Namun, orang ini memiliki keteguhan pendirian. Tatkala dipaksa agar berikan persembahan kepada berhala meski dengan seekor lalat, ia berkata lugas dan tegas, “Aku tidak akan berkorban sedikit pun, kecuali kepada dan atas nama Allah Swt.” Karena kejadian itu, sebagaimana dikutip dalam “Muslim Klakson” tulisan Mbah Dipo, Rasulullah Saw bersabda, “Kemudian ia (penyembah berhala) memenggal leher orang itu dan Allah Swt memasukkan orang itu ke dalam surga.”

Demikianlah makna besar tauhid. Sesembahan kita hanyalah Allah Swt. Mengesakan-Nya adalah tiket utama menuju surga. Pun, sebaliknya: menduakan Allah Swt berarti memesan satu tempat kekal nan abadi di dalam neraka.

Sumber: http://kisahikmah.com

Rabu, 05 November 2014

Hindari 29 Sifat Ini Saat Memilih Pendamping Hidup

Pernikahan adalah hal sensitif yang tidak boleh dilakukan asal-asalan. Harus ada pertimbangan yang matang sebelum mengambil keputusan kapan dan dengan siapa akan menikah. Dalam hal ini, Islam sudah dengan jelas memberikan kriterianya. Sehingga, ajaran itulah yang seharusnya dijadikan panduan oleh siapapun yang hendak menyempurnakan separuh agama itu.

Rasulullah Saw memberikan garis besar kriteria calon pasangan hidup dengan kalimat “yang baik agamanya”. Maknanya bukan sekedar rajin dan bagus dalam ibadah ritual semata, tetapi baik juga dari segi akhlak sebagai salah satu buah utama dari aktivitas ibadah itu sendiri.

Selanjutnya, guna mengetahui aspek akhlak ini, seorang calon suami atau istri harus meminta pendapat atau informasi dari orang-orang terdekat dengan calon pasangan hidup seseorang dalam proses ta’aruf yang syar’i.

Melalui ta’aruf inilah, kemungkinan untuk berbohong bisa dipersempit. Harapannya, calon pendamping hidup akan terbuka dengan semua kebaikan dan keburukan yang dimilikinya. Sehingga proses perbaikan selepas menikah akan berjalan lebih baik dan terbuka serta sedikit hambatan dari kedua pasangan.

Dalam artikel ini, kami sebutkan dua puluh sembilan perangai buruk yang tidak dikehendaki dalam diri calon pasangan hidup seseorang. Sifat-sifat inilah yang ditengarai bisa menimbulkan konflik rumah tangga hingga berujung pada perceraian.

Yang penting untuk dicatat, tak ada orang yang sempurna. Menikah adalah proses perbaikan berkelanjutan. Suami adalah ladang amal istri, istri pun sebaliknya: ladang amal bagi suaminya. Maka menikah adalah lahan untuk saling melengkapi satu sama lainnya.

1. Pemarah
2. Cuek
3. Cerewet
4. Pemalas
5. Pembohong
6. Tertutup
7. Keras kepala
8. Egois
9. Tidak menjaga diri
10. Cinta dunia
11. Tidak bertanggungjawab
12. Pelit
13. Sensitif
14. Emosional
15. Sombong
16. Banyak bicara
17. Tidak mendidik (memberi contoh)
18. Pendendam
19. Malas beribadah
20. Banyak tidur
21. Pesimis
22. Penakut
23. Menjadikan istri sebagai tulang punggung
24. Terlalu baik
25. Kurang perhatian
26. Pembangkang (tidak menurut)
27. Tidak romantis
28. Buruk sangka
29. Tidak mau dimadu

Semoga sahabat Keluarga Cinta diberikan kemudahan untuk menemukan pendamping hidup sejati. Yaitu sosok yang mencinta Allah Swt, menjejaki Sunnah Rasulullah Saw dan senantiasa menjadikan ulama sebagai teladan dalam kehidupan.

Jika masih ada sifat buruk lain yang tidak dikehendaki dari calon pasangan hidup kita, silakan ditambahkan. Semoga Allah Swt memberkahi niat baik kita untuk menuntut ilmu pernikahan sebagai bekal kebaikan hidup di dunia dan akhirat.Aamiin. [Pirman]

Sumber: keluargacinta.com

AYO BERHIJAB!!! (Hikmah Dalam Angkot)

Bermula ketika ada seorang akhwat menaiki sebuah angkot yang didalamnya terdapat 3 orang wanita, seorang ibu yang jilbabnya agak panjang (JP), seorang ibu yang memakai jilbab seleher (JS) dan seorang wanita yang memakai rok mini.

Awalnya akhwat tersebut diperhatikan terus, tetapi lama kelamaan si ibu yang memakai jilbab seleher (JS) terlihat amat sinis, sampai-sampai gamis sang akhwat diinjak dan jilbabnya pun ditindih dengan tas. Dengan agak takut-takut sang akhwat berkata: "maaf bu, gamis saya" (sambil menarik jilbab dan gamisnya yang terinjak).

Ibu JS: "Makanya neng jangan pake baju sama jilbab kaya gitu! ribet! pasti gerah tuh!?"
Akhwat itu terkaget sambil tertawa kecil, ia berkata: "Alhamdulillah nyaman bu, bahkan menurut penelitian, baju yang ketat-ketat itu yang bikin panas, soalnya kan udara susah masuk gara-gara celah antara kain dengan badan sempit, kalo saya longgar gini enak bu, dingin lagi hehe ^^".

Ibu JS: "Itu mukanya ditutupin segala, malu ya neng ketahuan jeleknya??" Sang akhwat diam saja, tetapi tiba-tiba seorang Ibu yang jilbabnya agak panjang (JP) menimpali: "Hei Bu, biasanya mah yang pake cadar pada cakep-cakep bu, bersih mukanya, nggak kena debu, terawat, nggak kaya kita nih kusem".

Akhwat itu hanya tersenyum,
Ibu JS: "Ah masa, serem orang-orang yang pake cadar kan??". Ibu JP: "Mana Serem? tadi si neng juga sopan gitu kok ngomongnya kan, gak maen celetak celetuk aja kaya Ibu, makanya bu jangan suudzan.. tanya langsung aja sama orangnya, jangan bisik-bisik itu tidak baik".

Ibu JS: "Neng, ngapain pake cadar segala? Inikan Bukan Arab?"
Akhwat:: "Hehehe, malu bu, sayang juga kalo cantiknya diliat orang banyak, nanti nggak ada hal yang spesial buat suami, kan kasian, istrinya Nabi Muhammad kan juga pake bu (Sambil tersenyum).

Ibu JP: "Tuh kan bu"
Ibu JS: " Ohhhh gitu, iya juga sih... tapi kan yang jual jarang banget."
Akhwat: "Saya penjual gamis bu (tersenyum sambil Promosi).
Akhirnya mereka pun ngobrol seru sampai akhirnya sang akhwat turun lebih dulu.
"Hmmmm Kasihan sama mbak nya yang pake rok mini, taku kesindir hihihi
(kisah ini dimuat dengan sedikit perubahan dan atas ijin yang bersangkutan hehe).
_____

Nah, Dari kisah di atas, ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil,
1. Jilbab yang syar'i adalah sebagaimana disebutkan oleh syaikh al-albani dalam kitabnya jilbab Mar'ah Muslimah,
  • Hendaklah jilbab menutupi seluruh badannya kecuali wajah dan telapak tangan, jika keduanya ditutup maka ini jelas lebih suci dan utama.
  • Tidak ketat sehingga menggambarkan lekuk tubuh.
  • Kainnya harus tebal, tidak tipis dan tidak tembus pandang sehingga menampakkan kulit tubuh.
  • Tidak menyerupai pakaian laki-laki
  • Tidak mencolok dan berwarna yang dapat menarik perhatian.
  • Tidak menyerupai pakaian wanita kafir.
  • Bukan pakaian untuk mencari popularitas.
  • Tidak diberi parfum atau wangi-wangian secara berlebihan.
2. Janganlah jilbab lebar serta cadar menjadi sebab seorang muslimah menjauh dari lingkungan sekitar, pergaulannya menjadi semakin eksklusif, kaku, tidak ramah dengan orang diluar kelompoknya dan terkesan paling benar serta akan masuk surga sendiri. Pandangan seperti inilah pandangan yang salah dan keliru yang semestinya kita luruskan dan kita perbaiki kembali terutama bagi sekalian akhwat serta ummahat (Ibu-ibu) yang sudah mengenal dakwah sunnah. Memang, terdapat Hadist yang mengatakan bahwa, "Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu." (HR Muslim, no.208).

Namun keterasingan ini maksudnya adalah orang-orang yang tetap baik tatkala masyarakat telah diliputi kerusakan, ditengah banyaknya manusia yang jauh dari syariat islam, jauh dari sunnah. Namun dalam pergaulan, tetap mereka adalah kaum muslimin yang mungkin masih jahil (belum tahu) yang tentunya harus kita beritahu tentang syariat  islam ini. Dan  mereka pun punya hak seperti dalam hadist berikut yang artinya:

"Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada lima: menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, memenuhi undangan dan mendoakan yang bersin." (HR. Bukhari, no. 1240 dan muslim, no.2162).

Semoga bermanfaat sahabat-sahabat yang dirahmati Alloh. Wallohu'alam Bishawab.

Selasa, 04 November 2014

Cinta Dalam Pandangan Islam (Tips dan Do'a)

Ikhtiar untuk menemukan jodoh anda? Khusus, hanya untuk yang siap nikah tidak pakai pacaran.

Siapakah jodoh kita, kapan waktunya tiba, di mana akan dipertemukan, apakah ia benar-benar orang shaleh/ shalehah?. Semua itu rahasia Allah SWT.

Allah SWT menetapkan tiga bentuk taqdir dalam masalah jodoh. Pertama, cepat mendapatkan jodoh. Kedua, lambat mendapatkan jodoh, tapi suatu ketika pasti mendapatkannya di dunia. Ketiga, menunda mendapatkan jodoh sampai di akhirat kelak. Apapun pilihan jodoh yang ditentukan Allah adalah hal terbaik untuk kita. Allah SWT berfirman: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”
(QS. Albaqarah: 216)

Kita harus terikat aturan Allah. Kita juga dibekali akal untuk memahami aturan-Nya. Ketika kita memutuskan untuk taat atau melanggar aturanNya adalah pilihan kita sendiri. Bagaimana cara kita untuk mendapatkan jodoh adalah pilihan kita. Dengan jalan yang diridhoiNya atau tidak. Tetapi hasil akhirnya Allah yang menentukan.

Berikut ini ada beberapa tips agar cepat mendapatkan jodoh bagi anda yang sampai saat ini belum mendapatkan jodoh untuk menikah:

1. Tentukan terlebih dahulu kriteria pasangan ideal

Nabi bersabda: ”Apabila datang kepada kalian lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya,maka nikahkanlah ia (dengan puteri kalian). Sebab jika tidak, maka akan terjadi fitnah dibumi dan kerusakan yang besar”. "Lelaki yang bertaqwa akan mencintai dan memuliakan istrinya. Jika ia marah tidak akan menzhalimi istrinya. Kaum jahiliyah menikah dengan melihat kedudukan, kaum Yahudi menikah dengan melihat harta, kaum Nasrani menikah dengan melihat rupa, sedangkan umat Islam menikahkan dengan melihat agama".

Nabi bersabda:"Sesungguhnya dunia seluruhnya adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita (isteri) yang sholehah”. Beliau juga bersabda, ”Wanita dinikahi karena empat faktor, yakni karena harta kekayaannya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Hendaknya pilihlah yang beragama agar berkah kedua tanganmu.”

Sulit mencari jodoh bisa jadi karena kriteria terlalu muluk. Janganlah kita menginginkan kesempurnaan orang lain, padahal diri kita tidak sempurna.

2. Memperluas Pergaulan Sesuai Syariat

Seringlah bersilaturrahim ke tempat saudara atau mengikuti majelis ta'lim. Ustadz, teman, orang tua, saudara, keluarga, dan yang lain Insyaallah pasti bisa diminta bantuan.

3. Sebisa mungkin hindari berpacaran

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Israa’: 32). Kita dilarang berkhalwat, memandang lawan jenis dengan syahwat, wanita bepergian sehari semalam tanpa muhrim, dll.

Biasanya, orang pacaran selalu menutupi kekurangannya dan menampilkan yang baik-baik saja. Cari informasi dari orang dekatnya (saudara, teman, tetangganya). Perlu juga penilaian dari orang tua dan keluarga kita. Biasanya kita tidak dapat melihat kekurangan orang yang kita cintai.

4. Perbanyak introspeksi diri

Jika kita ingin mendapatkan jodoh yang shaleh, maka kita harus menjadi orang yang shaleh juga. Allah SWT berfirman: “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula}” (QS. An Nuur: 26).

Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat pada bentuk-bentuk (lahiriah) dan harta kekayaanmu, tapi Dia melihat pada hati dan amalmu sekalian. " (HR. Muslim, Hadits no. 2564 dari Abu Hurairah). Jadi, lelaki atau wanita yang baik menurut pandangan Allah itu adalah lelaki atau wanita yang baik iman dan amalnya.

Secara lahiriah kita perlu menjaga kebersihan, kerapihan dan menjaga bau badan. Bukan berdandan berlebihan (tidak Islami), tapi tampil menarik.

5. Jangan Mencintai Secara Berlebihan

“Barangsiapa memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan menikah karena Allah, maka sempurnalah imannya. (HR. Abu Dawud)

Jika kita mencintai manusia lebih daripada Allah, niscaya hati kita akan hancur dan putus asa jika ditinggalkan. Jika kita mencintai Allah di atas segalanya, niscaya kita akan selalu tegar dan tabah karena kita yakin bahwa Allah itu Maha Hidup dan Abadi serta selalu bersama hamba yang Sholeh.

6. Jika Gagal Berusaha Lagi

Jika kita gagal, jangan putus asa dan minder. Kita harus sabar dan tetap berusaha mendapatkan yang lebih baik lagi. Yakinlah ada yang lebih baik yang sedang dipersiapkan Allah untuk kita.

Para sahabat besarpun mengalaminya. Contohnya Utsman RA yang melamar putri Abu Bakar ditolak, lalu melamar putri Umar juga ditolak, akhirnya malah menjadi menantu Rasulullah SAW.

Jodoh tidak akan lari dan akan datang pada waktunya. Bersabarlah dan sibukkan diri dengan amal sholeh. Hadapilah dengan sikap tenang, santai, tidak mudah emosi/sensitif, tidak larut dalam kesedihan, tidak berputus asa dan tetap bersemangat.

Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh menakjubkan kondisi seorang mukmin. Segala keadaan dianggapnya baik, dan hal ini tidak akan terjadi, kecuali bagi seorang mukmin. Apabila mendapat kesenangan ia bersyukur, maka itu tetap baik baginya dan apabila ditimpa penderitaan ia bersabar maka itu tetap baik baginya.” (HR Muslim)

Gunakan energi kita untuk lebih mendekatkan diri dan mencintai Allah SWT., orang tua, dan umat. Yakinlah dengan keadilan-Nya bahwa setiap manusia pasti memiliki jodoh masing-masing. Yakinlah bahwa semua kondisi adalah baik, berguna, dan berpahala bagi kita.

7. Siap menerima taqdir Allah

Hidup adalah ujian. Bisa saja, takdir jodoh kita bukan orang shaleh. Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman. Sesungguhnya di antara pasanganmu dan anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka… Sesungguhnya hartamu dan anakmu, hanyalah ujian bagimu, dan di sisi Allah pahala yang besar.” (Q.S. At-Taghaabuun: 14-15)

Hal tersebut tetap bisa menjadi kebaikan apabila dijadikan sebagai lahan amal shaleh dan batu ujian untuk meningkatkan keimanan, tawakal, dan kesabaran.

8. Wanita bisa melamar lelaki


Bukan hal yang dilarang jika wanita menemukan lelaki sholeh dan berinisiatif menawarkan diri dalam pernikahan melalui peran orang yang dipercaya. Khadijah RA melalui pamannya melamar Nabi Muhammad SAW setelah mengetahui akhlak dan agama beliau.

9. Taqarrub Ilallah

Perburuan jodoh secara syar’i adalah dengan mendekati Allah super ekstra. Caranya dengan bertawasul amal-amal shaleh, tidak hanya ibadah wajib (berbakti kepada orangtua, sholat wajib), juga ibadah sunnah (shoum sunnah, sholat tahajjud/ taubat/ istikhoroh/ hajat/ witir/d huha, tilawah Al Qur’an, istighfar, infaq, dan lain-lain). Semakin dekat dengan Allah, iman bertambah dan do’a kita semakin terkabul. Usaha yang konsisten, optimis dan prasangka baik akan memudahkan jalan kita.

10. Tidak putus asa dan selalu berdoa

Bacalah doa: “Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al Furqon: 74).

Doa lebih terkabul pada tempat mustajab, waktu mustajab dan memperhatikan adab berdoa. Berdoalah menurut apa yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya. Tempat mustajab: masjid, majlis ta’lim, Arafah, Hajar Aswad, Hijr Ismail, di atas sajadah, dll.

Waktu mustajab seperti sepertiga malam yang akhir, selesai sholat wajib/tahajjud/hajat, saat sujud/I’tidal terakhir dalam sholat, sedang berpuasa, berbuka puasa, dalam perjalanan, selesai khatam qur’an, hari Jum’at, baru mulai hujan, diantara azan dan iqamat, ketika minum air zamzam, bulan ramadhan/lailatul qodar, antara zuhur dan ashar juga antara ashar dan maghrib, selesai sholat subuh, dalam kesulitan, sedang sakit, sedang ada jenazah.

Adab berdoa seperti menjauhkan hal yang haram, ikhlas, diawali dan diakhiri tahmid/sholawat, menghadap kiblat, suci dari hadats dan najis, khusyu’ dan tenang, menengadahkan kedua tangan, dengan suara rendah dan pengharapan sepenuh hati, mengulangi berkali-kali, tidak berputus asa, menghadirkan Allah dalam hati, tidak meninggalkan sholat wajib, tidak melakukan dosa besar, tidak minta sesuatu yang dilarang Allah, sambil menangis.

Nabi Musa as berdoa setelah menolong dua perempuan penggembala kambing: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku." (QS 28:24). Allah SWT memahami keperluan dan prioritasnya, sehingga tidak saja memberi makanan, tapi juga memberi jodoh, tempat tinggal dan pekerjaan. Wallahu’alam bishawab.

Doa bagi laki2 yang berharap jodoh :

“ROBBI HABLII MILLADUNKA ZAUJATAN THOYYIBAH AKHTUBUHA WA ATAZAWWAJ BIHA WATAKUNA SHOOHIBATAN LII FIDDIINI WADDUNYAA WAL AAKHIROH”.

“Ya Robb, berikanlah kepadaku istri yang terbaik dari sisi-Mu, istri yang aku lamar dan nikahi dan istri yang menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia dan akhirat”.


Doa bagi wanita yang berharap jodoh :

“ROBBI HABLII MILLADUNKA ZAUJAN THOYYIBAN WAYAKUUNA SHOOHIBAN LII FIDDIINI WADDUNYAA WAL AAKHIROH”.

“Ya Robb, berikanlah kepadaku suami yang terbaik dari sisi-Mu, suami yang juga menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia & akhirat”

“ALLOHUMMAB’ATS BA’LAN SHOOLIHAN LIKHITHBATHII WA’ATTHIF QOLBAHU ‘ALAYYA BIHAQQI KALAAMIKAL QODIIMI WABIROSUULIKAL KARIIMI BI ALFI ALFI LAA HAWLA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL ‘ALIYYIL ‘AZHIIM WA SHOLLALLOOHU ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA’ALAA AALIHII WA SHOHBIHI WA SALLAMA WALHAMDULILLAAHIROBBIL ‘AALAMIIN.”

Artinya dalam Bahasa Indonesia :

“ Tuhanku, utuslah seorang suami yang shalih untuk melamarku, condongkanlah hatinya kepadaku berkat kebenaran Kalam-Mu yang qadim dan berkat utusanMu yang mulia dengan keberkahan sejuta ucapan LAA HAWLA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL ‘ALIYYIL ‘AZHIIM. Dan semoga Allah Melimpahkan Rahmat dan salam kepada junjungan kita, Nabi Muhammad, dan kepada segenap keluarga serta sahabatnya. Dan segala puji bagi Allah Tuhan sekalian Alam.”
uatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al Baqarah: 216).