Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Oktober 2015

Mengapa Tidak Merasakan Ketentraman Hati Di Majelis Ilmu?

Tidak diragukan lagi bahwa majelis ilmu adalah sumber ketentraman hati, ketenangan jiwa dan tempat me-recharge keimanan kita. Akan tetapi kenapa majelis ilmu tidak ramai orang-orang berlomba-lomba menghadirinya? Dan mengapa sebagian orang tidak merasakan ketentraman hati di majelis ilmu? Berikut mungkin tiga penyebab yang kami rasa paling sering menjadi penyebabnya:

Pertama: Tidak ikhlas dalam menuntut ilmu dan ada tujuan dunia dibaliknya
Yang seperti ini pasti tidak merasa ketenangan hati karena ilmu agama tidak akan masuk ke dalam hati yang rusak. Imam Al-Ghazali rahimahullah berkata,
“Kami dahulu menuntut ilmu bukan karena Allah ta’ala , akan tetapi ilmu enggan kecuali hanya karena Allah ta’ala.”[1]

Apalagi terkadang kita menuntut ilmu untuk memperoleh kedudukan yang tinggi, mencapai gelar “ustadz”, menjadi rujukan dalam berbagai pertanyaan. Bahkan ingin menyaingi ilmu ustadz atau seniornya. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk menyombongkan diri di hadapan para ulama atau untuk berdebat dengan orang-orang bodoh atau untuk menarik perhatian manusia maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka”[2]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
“Berkata sebagian ahli ilmu merupakan kebaikan sifat seseorang adalah bertanya tentang ilmu. Telah dikatakan, Jika anda duduk bersama seorang ‘alim (ahli ilmu) maka bertanyalah untuk menuntut ilmu bukan untuk melawan/ngeyel”[3]

Memang masalah niat adalah masalah yang cukup berat untuk diikhlaskan. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata,
“Tidaklah aku berusaha untuk mengobati sesuatu yang lebih berat  daripada meluruskan niatku, karena niat itu senantiasa berbolak balik”[4]
 
Kedua: Pemateri tidak kompeten dalam ilmu agama
Tentu jika pemateri yang memberikan materi tidak cakap atau tidak ahli maka isi dan penyampaiannya akan tidak menarik dan membosankan. Kita ambil contoh ketika khutbah Jumat dimana terkadang yang menjadi khatib adalah ustadz karbitan, ustadz jadi-jadian, modal gelar profesor atau doktor saja sudah berani berbicara banyak tentang agama padahal tidak kompeten. Maka jelas makmum jumatan akan mengantuk dan justru tidak merasakan ketenangan. Inilah yang dimaksud oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,
”Sesungguhnya kamu pada hari ini berada pada zaman dimana banyak sekali ulamanya dan sedikit sekali khutobaa’nya, barang siapa yang meninggalkan sepersepuluh dari apa yang telah ia ketahui (dari urusan agamanya) maka sesungguhnya ia telah mengikuti hawa nafsu. Dan akan datang nanti suatu zaman dimana banyak sekali khutobaa’nya [khutobaa’: khatib tanpa ilmu –pent] dan sedikit sekali ulamanya, barang siapa yang berpegang dengan sepersepuluh dari apa yang telah ia ketahui (dari urusan agamanya), maka sesungguhnya ia telah selamat.”[5]

Berbeda jika yang memberikan ceramah kompeten dan berilmu yang luas, maka kita akan mendapatkan banyak faidah dan bisa menggetarkan dan menenangkan hati. Lihatlah apa yang disampaikan oleh Imam Adz Dzahabi rahimahullah menyampaikan kisah Ahmad bin Sinan, ketika beliau berkata,
“Tidak ada seorangpun yang bercakap-cakap di majelis Abdurrahman bin Mahdi. Pena tak bersuara. Tidak ada yang bangkit. Seakan-akan di kepala mereka ada burung atau seakan-akan mereka berada dalam shalat.”[6]
 
Ketiga: Tidak belajar agama secara ta’shiliy [belajar dari dasar]
Menjadi fenomena juga bahwa ada yang belajar agama terkesan “semau gue”, mau datang kajian bisa, tidak datang juga tidak masalah, belajar agama juga tidak sistematis atau belajar secara ta’shiliy [belajar dari dasar]. Sehingga belajar agama terkesan berat dan membosankan dan tentu bukan ketenangan yang didapat. Sebagaimana jika kita belajar ilmu dunia, misalnya kedokteran maka digunakan kurikulum dari dasar supaya lebih mudah, maka demikian juga ilmu agama.

Syaikh Muhammad Shalih bin Al-‘Utsaimin rahimahullahu berkata mengenai hal ini, “Janganlah mempelajari buku sedikit-sedikit, atau setiap cabang ilmu sepotong-sepotong kemudian meninggalkannya, karena ini membahayakan bagi penuntut ilmu dan menghabiskan waktunya tanpa faidah, misalnya sebagian penuntut ilmu memperlajari ilmu nahwu, ia belajar kitab Al-Jurumiyah sebentar kemudian berpindah ke Matan Qathrun Nada kemudian berpindah ke Matan Al-Alfiyah..demikian juga ketika mempelajari fikih, belajar Zadul Mustaqni sebentar, kemudian Umdatul Fiqh sebentar kemudian Al-Mughni kemudian Syarh Al-Muhazzab, dan seterusnya. Cara seperti Ini umumnya tidak mendapatkan ilmu, seandainya ia memperoleh ilmu, maka ia tidak memperoleh kaidah-kaidah dan dasar-dasar.”[7]

Dan masih ada penyebab yang lainnya seperti:
  • suasana yang gaduh karena ibu-ibu membawa anak-anak mereka, ada yang menangis dan ribut. 
  • banyaknya yang berjualan di sekitar majelis ilmu sehingga terkadang menggangu
  • tempatnya kurang nyaman dan terkadang berdesak-desakan
Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Walamdulillahi robbil ‘alamin.

**
Catatan kaki
[1] Thabaqat Asy-Syafi’iyah 6/194, Darun Nasry, cet.II, 1413 H, Syamilah
[2] HR. At-Tirmidzy 5/32 no.2654, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani
[3] Miftah Daris Sa’adah 1/168, Darul Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, Syamilah
[4] Jami’ Al-‘ulum wal hikam hal. 18, Darul Aqidah, Koiro, cet.I, 1422 H
[5] HR. Ahmad dalam Musnadnya (5/155). Silsilah ash-Shahiihah karya Syaikh al-Albani (no 2510).
[6] Tadzkiratul Hufadz 1/242, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, Beirut, cet.I, 1419 H, syamilah
[7] Kitabul ‘ilmi syaikh ‘Utsaimin hal. 39, Darul Itqaan, Iskandariyah

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen
Artikel Muslim.or.id

Rabu, 14 Oktober 2015

Shalat Dengan Sisi Kehidupan Kita

Salah seorang ulama shalih mengatakan, "Shalat adalah Cahaya, yang terpancar dari hati seorang mukmin. Menerpa dan menyinari wajahnya, lalu memantul keseluruh anggota tubuhnya; Cahaya, yang digunakan Allah untuk menujukan siapa saja yang mencari keridhoan-Nya menuju jalan-jalan keselamatan; Cahaya, yang disandang oleh seorang mukmin ketika berjalan diantara manusia, sehingga ia melihat apa yang tidak dilihat orang lain; dan juga Cahaya, yang berkilau dihadapan dan di sbelah kanannya kelak pada hari kiamat nanti."

Kalimat-kalimat diatas merupakan untaian kata yang penuh pancaran cahaya, sebab yang menjadi titik bahasannya adalah Shalat. Ya, shalat menjadi sesuatu yang amat menakjubkan! Shalat menancap dalam tiap potongan belahan fase hidup kita. Lima kali sehari semalam, sebagai kesempatan bagi seseorang untuk membersihkan noda-noda dan menyeka kesalahan-kesalahannya.

Disela-sela kepenatan bekerja dan beraktifitas, Shalat Dzuhur datang menyapa, untuk mengingatkan kita akan Allah dan menghidupkan kembali diri kita. Selanjutnya kita pun menyelesaikan pekerjaan hingga rasa penat dan capai datang kembali. Saat itu, tibalah Shalat Ashar untuk mengembalikan gairah dan semangat kerja serta mengantarkan jasad kita menuju saat-saat beristirahat. Shalat Magrib pun menghidupkan lagi diri kita, hingga kemudian datang Shalat Isya dan menutup episode hari ini. begitulah, kita pun memulai hari baru bersama Shalat Subuh dengan semangat baru.

Shalat adalah terminal-terminal pengisian bahan bakar bagi diri kita. ketika kita mulai lemah semangat, turun gairah dan letih badan, shalat ini datang menyapa untuk membekalinya dengan bahan bakar spiritual dan tali jalinan yang menjadikannya hidup denagn jasad diatas bumi, tapi ruhnya tersambung ke langit.

Sepenuhnya kita ketahui, seorang manusia senantiasa memiliki kebutuhan. Kebutuhannya yang tanpa batas, selalu bertambah, tanpa henti, samapai lepasnya nyawa dari jasad. Suatu ketika ia akan memiliki rasa butuh yang sangat tinggi terhadap sesuatu, saat inilah tiba peranan Shalat Sunat Hajat dimana ia menghiba kepada Alloh SWT untuk menunaikan hajat dan kebutuhannya. Tatkala ia berada dalam kebimbangan demi memilih antara dua hal, datanglah peranan Shalat Sunat Istikharah. Dan selepas becek oleh dosa serta kemaksiatan, segera ia insaf tersadar dan menunaikan Shalat Sunat Taubat. Tatkala sang hamba Alloh ini sangat ingin sekali dekat dan 'mengunjungi' serta ingin berbicara langsung dengan sang maha pencipta Alloh SWT maka ia pun terbangun dari tidur malam lelapnya sebelum mengawali hari, menghirup udara segar pagi hari dalam Qiyamullail dan melaksanakan Shalat Sunat Tahajud.

Anda pun bisa melihat, ketika umat ini berada dalah kebahagiaan dan keceriaan, Shalat Sunat Hari Raya datang ditengah puncak gelombang kegembiraan tersebut. Dan saat umat ini tertimpa oleh kesulitan ekonomi semisal paceklik atau kemarau berkepanjangan, Shalat Sunat Istisqa' hadir untuk memohon siraman hujan. Kemudian, ketika muncul gejala alam yang unik semisal gerhana matahari, kita sama-sama melaksanakan Shalat Gerhana untuk memuji allah. Disamping itu, tentu kita tidak melupakan Shalat Jum'at, saat diamana umat ini berhimpun dan berkumpul sepekan sekali.

Perhatikan, saudaraku, betapa erat kaitan  shalat dengan segala sisi kehidupan kita...!


Yang juga cukup menarik disini, adalah ketika seorang bayi dilahirkan, Islam mensunnahkan kita untuk membacakan azan ditelinga kanan dan iqamah disebelah kirinya. Selama ada adzan dan iqamah, pasti ada pula pelaksanaan shalat. Tidakkah kita renungkan, kelak, selepas nyawa dari badan, kita juga akan di shalatkan?.

Jadi, Hidup kita diawali dengan Adzan dan diakhiri dengan Shalat. Di antara titik awal dan titik akhir ini, terbentang kehidupan kita yang membawa tema utama "MENEGAKAN SHALAT"!

Kamis, 26 Maret 2015

Alhamdulillah, Polwan Berhijab

SubhanAllah walhamdulillah akhirnya POLRI mengizinkan POLWAN untuk mengenakan jilbab berdasarkan Keputusan Kapolri No 245/III/2015. Abang sujud syukur, jazaakumullah semua bapak bapak petinggi POLRI dan semua ikhwah yg berjuang hingga keluar keputusan mulia ini. Kini terbuka bagi muslimat POLRI untuk hidup bahagia, terhormat dan cantik dg busana kemuliaan jilbab. Kembali abang sampaikan diantara alasan Mengapa Wanita Mu'minat Berjilbab,
  • Tujuan hidup seorg mu'min adalah Keridhoan Allah, "Ath thooah baabur ridho" taat berjilbab itu pintu diantara pintu keridhoan Allah. "Hai Nabi, katakanlah kpd isteri2mu, anak2 perempuanmu dan isteri2 mu'minin,"Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yg demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal dan tidak mudah di ganggu (QS Al Ahzab 59),
  • Taat kpd Rasulullah, "Wahai Asma! Sesungguhnya seorg gadis yg telah haidh, tidak boleh baginya menampakkan anggota badan kecuali pergelangan tangan dan wajah saja" (Muttafaqun alaihi),
  • Krn ingin selamat di akhirat, sungguh siksa pedih bg mereka yg buka auratnya di akhirat, "…Para wanita yg berpakaian tapi telanjang (tipis atau tidak menutup seluruh aurat), berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yg miring. mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya.” (HR. Abu Dawud),
  • Ingin amal ibadah diterima, ”Tidak diterima shalat perempuan yg sudah haidh (balighah) kecuali dg menutup auratnya" (HR Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Maja),
  • Pembeda dirinya dg yg lain dan sebagai syiar wanita mu'minat (QS Al Ahzab 59),
  • Selamat dari tipudaya syetan, "Maka Syaitan membisikkan fikiran jahat kpd keduanya u menampakkan kpd keduanya yg tertutup dari mereka yaitu auratnya .." (QS Al A'raf 20),
  • Auratku hanya u yg Allah halalkan, (QS An Nur 31). Jangan jadi alasan atau contoh wanita berjilbab yg berakhlak buruk, itu wanita yg belum faham dan beriman utuh ajaran Islam. Teladanilah wanita mu'minat yg berjilbab dg kemuliaan akhlak. "Semoga sahabat wanita FBku yg belum berjilbab suatu saat kalian atas hidayah Allah menutup aurat kalian...aamiin". Abang sangat bahagia malam ini, semua memang harus sabar dan penuh kasih sayang kalau Syariat Allah tujuannya.
Sumber: Diambil dari Fanspage Resmi K. H. Muhammad Arifin Ilham,
https://www.facebook.com/kh.muhammad.arifin.ilham/photos/a.435861909738.221420.56922759738/10153278531879739/?type=1&theater

Senin, 10 November 2014

3 Keutamaan Shalat Dhuha

Shalat Dhuha memiliki keutamaan yang luar biasa. Berikut ini hadits-hadits yang menunjukkan 3 keutamaan shalat Dhuha:

1. Shalat Dhuha 2 rakaat senilai 360 sedekah

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى

“Setiap pagi, setiap ruas anggota badan kalian wajib dikeluarkan shadaqahnya. Setiap tasbih adalah shadaqah, setiap tahmid adalah shadaqah, setiap tahlil adalah shadaqah, setiap takbir adalah shadaqah, menyuruh kepada kebaikan adalah shadaqah, dan melarang berbuat munkar adalah shadaqah. Semua itu dapat diganti dengan shalat dhuha dua rakaat.” (HR. Muslim)

فِى الإِنْسَانِ ثَلاَثُمِائَةٍ وَسِتُّونَ مَفْصِلاً فَعَلَيْهِ أَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْ كُلِّ مَفْصِلٍ مِنْهُ بِصَدَقَةٍ. قَالُوا وَمَنْ يُطِيقُ ذَلِكَ يَا نَبِىَّ اللَّهِ قَالَ النُّخَاعَةُ فِى الْمَسْجِدِ تَدْفِنُهَا وَالشَّىْءُ تُنَحِّيهِ عَنِ الطَّرِيقِ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فَرَكْعَتَا الضُّحَى تُجْزِئُكَ

“Di dalam tubuh manusia terdapat tiga ratus enam puluh sendi, yang seluruhnya harus dikeluarkan shadaqahnya.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Siapakah yang mampu melakukan itu wahai Nabiyullah?” Beliau menjawab, “Engkau membersihkan dahak yang ada di dalam masjid adalah shadaqah, engkau menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan adalah shadaqah. Maka jika engkau tidak menemukannya (shadaqah sebanyak itu), maka dua raka’at Dhuha sudah mencukupimu.” (HR. Abu Dawud)

2. Shalat Dhuha 4 rakaat membawa kecukupan sepanjang hari


يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا ابْنَ آدَمَ لاَ تُعْجِزْنِى مِنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ فِى أَوَّلِ نَهَارِكَ أَكْفِكَ آخِرَهُ

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Wahai anak Adam, janganlah engkau luput dari empat rakaat di awal harimu, niscaya Aku cukupkan untukmu di sepanjang hari itu.” (HR. Ahmad)

3. Menjaga shalat Dhuha dicatat sebagai awwabiin


لا يحافظ على صلاة الضحى إلا أواب وهي صلاة الأوابين
“Tidaklah menjaga shalat sunnah Dhuha melainkan awwab (orang yang kembali taat). Inilah shalat awwabin.” (HR. Ibnu Khuzaimah; hasan)

Demikian 3 keutamaan Shalat Dhuha, semoga semakin menguatkan kita dalam mengamalkan salah satu sunnah Nabi ini. [IK/Bersamadakwah]

Kepada Siapa Kita Bersandar ?

ALHAMDULILLAH, pujian hanya milik Allah SWT. Dialah Allah, sebaik-baiknya pelindung dan tak ada satupun yang dapat menandingi-Nya. Shalawat dan salam untuk Nabi dan Rasul akhir jaman, Muhammad Saw.

Sahabatku, puncak kebahagiaan hidup adalah saat kita memberikan hati atau cinta kita untuk sesuatu. Baik itu makhluk, harta benda, popularitas, kekuasaan atau lainnya, kepada Allah, Dzat Yang Maha Kekal. Dengan cinta yang kita berikan, akan menjadi penuntun ke mana arah yang akan kita tuju dan menjadi.

Bila kita memberikan hati pada makhluk, maka bersiap-siaplah untuk kehilangan. Karena makhluk bersifat fana, suatu saat akan sirna. Bila harta, popularitas atau kekuasaan tempat hati kita bertaut, tunggulah! Suatu waktu kita akan terhinakannya. Ia akan membawa kita ke titik nadir, tempat di mana jiwa akan merasakan kegersangan yang tiada kira.

Makhluk, harta benda, popularitas hanya akan membawa kita menjadi para pencinta dunia. Para pencinta yang mengabdikan dirinya untuk mengejar dunia dan segala keindahannya. Para pencinta yang merasa bahwa ia telah mendapatkan kebahagiaan yang menjadi tujuan hidupnya. Namun hakikatnya, tujuan yang ia kejar adalah tujuan ke lembah kehampaan tanpa dasar.

Bagaikan Qais yang menjadi majnun (gila) karena cintanya pada Laila. Qarun yang rela mati tertimbun oleh harta, karena tak rela untuk meninggalkannya. Atau Fir’aun yang ditelan ganasnya laut merah, karena egonya akan popularitas dan kekuasaan.

Merekalah para pencinta dunia. Mereka yang namanya masih tergores dalam lembar sejarah sebagai orang-orang telah terpikat hatinya pada keindahan cinta dunia. Cinta pada makhluk, harta benda, popularitas atau kekuasaan.

Tidak cukupkah, para tokoh pencinta dunia itu menyadarkan kita akan hakikat hidup ini? Masih kurangkah tingkah polah mereka mengajarkan kita, ke mana hati ini hendaknya kita berikan? Atau kemanakah cinta harus kita sandarkan, agar tidak goyah saat kaki ini melangkah?

Jika cinta ini kita persembahkan pada Allah, Dzat Yang Maha Kekal, di mana jiwa kita ada di tangan-Nya, maka keberuntungan akan menyapa dalam setiap detik kehidupan kita.

Bila setiap waktu, hanya nama-Nya yang kita sebut. Bila setiap saat, hanya Allah yang menghiasi indahnya lafaz yang tak henti menyebut nama-Nya. Yakinlah surga telah lebih dahulu hadir mengiringi hidup kita.

Saat cinta pada makhluk, harta benda, popularitas atau kekuasaan hanya ibarat bunga mimpi yang ada, namun tidak nyata. Maka saat itulah, kita telah mendeklarasikan kebebasan yang hakiki. Kebebasan untuk menjadi hamba Allah yang sejati. Para pencinta akhirat.

Saudaraku, ingatkan diri kita akan hakikat hidup di dunia ini. Kita menjadi hamba Allah bukan hambanya dunia. Dunia adalah pelayan kita, bukan sebaliknya.

Sumber: Tauhid TV, www.smstauhiid.com

Minggu, 09 November 2014

Indahnya Shalat Tahajud

Di antara ajaran Rasulullah SAW yang paling dianjurkan adalah salat Tahajud (Salat malam). Sehingga. dalam literatur fikih islam, salat tahajud diberi hukum sunah muakkadah (sangat dianjurkan). Salat tahajud ini dilakukan pada malam hari setelah salat isya dan diisyaratkan tidur terlebih dahulu.

Pelaksanaan tahajud itu sendiri dikaitkan dengan waktu yang utama yaitu sepertiga malam terakhir yaitu sekitar jam 02.00-04.00 bahkan, ada yang menyebut waktu salat tahajud adalah disaat ketika kita dapat mendengar suara jarum yang jatuh diatas lantai.

Allah SWT berfirman,"dan pada sebagian malam, lakukanlah sholat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu, semoga tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang mulia" (QS. Al-Israa: 79).

Untuk melaksanakan salat tahajud memang merupakan perjuangan yang sangat berat. Apalagi ia dilaksanakan pada waktu manusia sedang enak-enaknya tidur, dalam udara yang dingin, bahkan harus berperang melawan hawa nafsu dan setan yang akan selalu membisikkan untuk tidur lelap. Namun, Allah Maha Mengetahui setiap ibadah hamba-hambanya dan Maha Penyayang terhadap usaha taqaruub kepadanya, Dia memberikan fadhilah (keutamaan) yang besar kepada siapa saja yang melakukan ibadah sunah ini. Maupun dihadapan-Nya nanti, sebagaimana tersirat dalam ayat diatas.

Rasulullah SAW bersabda, "Tuhanmu yang maha pemberi berkah dan Maha Mulia, selalu turun ke langit dunia setiap malam, pada paruh waktu sepertiga malam terakhir, dan dia berfirman,'Barang siapa yang berdo'a kepadaku maka akan aku kabulkan, barangsiapa mengajukan permintaan kepadaku akan aku berikan dan barangsiapa memohon ampun kepadaku akan aku ampuni." (HR. Bukhari dan Muslim).

Itulah tiga keutamaan Shalat Tahajud dan ketiganya pula merupakan harapan setiap hamba. Setiap hamba pasti berharap doanya terkabul, permintaannya diberikan dan dosa-dosa diampuni. Alangkah indahnya jika setiap kita ukat Islam bisa bangun malam, lalu shalat tahajud dan kemudian dilanjutkan dengan do'a. Do'a untuk kebaikan dan kesejahteraan bangsa, meminta rezeki yang halal, ilmu yang bermanfaat, serta kehidupan yang baik (Hasanah). Kita memohon ampun setiap dosa yang kita sengaja maupun tidak sengaja, dengan segala pengakuan khilaf kepada Rabb yang Maha Pengampun.

Selain keutamaan, ada juga keajaiban Shalat Tahajud ini. Sejarah telah mencatat bahwa Rasulullah SAW dan para sahabatnya selalu melaksanakan salat Tahajud. Keajaiban melaksanakan Salat Tahajud telah tercatat dalam Al-Quran. Ada beberapa keajaiban salat tahajud, yakni:

1. Shalat Tahajud sebagai tiket masuk surga.
Abdullah Ibn Muslim berkata, "Kalimat yang pertama kali ku dengar dari Rasulullah SAW saat itu adalah, "Hai sekalian manusia! sebarkan salam, bagikanlah makanan, sambungkanlah silaturahmi, tegakanlah salat malam saat manusia lainnya sedang tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat." (HR. Ibnu Majah).

2. Amal yang menolong di akhirat.
Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya orang orang yang bertaqwa berada didalam taman-taman surga dan dimata air-mata air, seraya mengambil apa yang Allah berikan kepada mereka. Sebelumnya mereka adalah telah berbuat baik sebelumnya (didunia), mereka adalah orang-orang yang sedikit tidurnya diwaktu malam dan diakhir malam mereka memohon ampun kepada Allah." (QS. Az-Zariyat: 15-18).

3. Pembersih penyakit hati dan jasmani.
Salman Al Farisi berkata, Rasulullah SAW bersabda, "dirikanlah salat malam, karena sesungguhnya salat malam itu adalah kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kamu, (salat malam dapat) mendekatkan kamu kepada tuhanmu, (salat malam adalah) sebagai penebus perbuatan buruk, mencegah berbuat dosa dan menghindarkan diri dari penyakit yang menyerang tubuh." (HR. Ahmad).

4. Sarana meraih Kemuliaan.
Rasulullah SAW bersabda, "Jibril mendatangiku dan berkata, "Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu, karena engkau akan mati, cintailah orang yang engkau suka, karena engkau akan berpisah dengannya, lakukanlah apa keinginanmu, engkau akan mendapatkan balasannya, ketahuilah bahwa sesungguhnya kemuliaan seorang muslim adalah shalat waktu malam dan ketidakbutuhannya dimuliakan orang lain." (HR. Albaihaqi)

5. Jalan mendapatkan Rahmat Allah SWT.
Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Semoga Allah merahmati laki-laki yang bangun malam, lalu melaksanakan shalat dan membangunkan istrinya, jika sang istri menolak, ia memercikan air di wajahnya. Juga, merahmati perempuan yang bangun malam, lalu shalat dan membangunkan suaminya, jika sang suami menolak, ia memercikan air diwajahnya." (HR. Abu Daud).

6. Sarana pengabulan permohonan.
Allah SWT berjanji akan mengabulkan doa orang-orang yang menunaikan salat tahajjud dengan ikhlas. Rasulullah SAW bersabda, "dari jabir berkata, bahwa Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya dimalam hari, ada satu saat yang ketika seorang muslim meminta kebaikan dunia dan akhirat, pasti Allah memberinya, itu berlangsung setiap malam (HR. Muslim).

Rabu, 05 November 2014

AYO BERHIJAB!!! (Hikmah Dalam Angkot)

Bermula ketika ada seorang akhwat menaiki sebuah angkot yang didalamnya terdapat 3 orang wanita, seorang ibu yang jilbabnya agak panjang (JP), seorang ibu yang memakai jilbab seleher (JS) dan seorang wanita yang memakai rok mini.

Awalnya akhwat tersebut diperhatikan terus, tetapi lama kelamaan si ibu yang memakai jilbab seleher (JS) terlihat amat sinis, sampai-sampai gamis sang akhwat diinjak dan jilbabnya pun ditindih dengan tas. Dengan agak takut-takut sang akhwat berkata: "maaf bu, gamis saya" (sambil menarik jilbab dan gamisnya yang terinjak).

Ibu JS: "Makanya neng jangan pake baju sama jilbab kaya gitu! ribet! pasti gerah tuh!?"
Akhwat itu terkaget sambil tertawa kecil, ia berkata: "Alhamdulillah nyaman bu, bahkan menurut penelitian, baju yang ketat-ketat itu yang bikin panas, soalnya kan udara susah masuk gara-gara celah antara kain dengan badan sempit, kalo saya longgar gini enak bu, dingin lagi hehe ^^".

Ibu JS: "Itu mukanya ditutupin segala, malu ya neng ketahuan jeleknya??" Sang akhwat diam saja, tetapi tiba-tiba seorang Ibu yang jilbabnya agak panjang (JP) menimpali: "Hei Bu, biasanya mah yang pake cadar pada cakep-cakep bu, bersih mukanya, nggak kena debu, terawat, nggak kaya kita nih kusem".

Akhwat itu hanya tersenyum,
Ibu JS: "Ah masa, serem orang-orang yang pake cadar kan??". Ibu JP: "Mana Serem? tadi si neng juga sopan gitu kok ngomongnya kan, gak maen celetak celetuk aja kaya Ibu, makanya bu jangan suudzan.. tanya langsung aja sama orangnya, jangan bisik-bisik itu tidak baik".

Ibu JS: "Neng, ngapain pake cadar segala? Inikan Bukan Arab?"
Akhwat:: "Hehehe, malu bu, sayang juga kalo cantiknya diliat orang banyak, nanti nggak ada hal yang spesial buat suami, kan kasian, istrinya Nabi Muhammad kan juga pake bu (Sambil tersenyum).

Ibu JP: "Tuh kan bu"
Ibu JS: " Ohhhh gitu, iya juga sih... tapi kan yang jual jarang banget."
Akhwat: "Saya penjual gamis bu (tersenyum sambil Promosi).
Akhirnya mereka pun ngobrol seru sampai akhirnya sang akhwat turun lebih dulu.
"Hmmmm Kasihan sama mbak nya yang pake rok mini, taku kesindir hihihi
(kisah ini dimuat dengan sedikit perubahan dan atas ijin yang bersangkutan hehe).
_____

Nah, Dari kisah di atas, ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil,
1. Jilbab yang syar'i adalah sebagaimana disebutkan oleh syaikh al-albani dalam kitabnya jilbab Mar'ah Muslimah,
  • Hendaklah jilbab menutupi seluruh badannya kecuali wajah dan telapak tangan, jika keduanya ditutup maka ini jelas lebih suci dan utama.
  • Tidak ketat sehingga menggambarkan lekuk tubuh.
  • Kainnya harus tebal, tidak tipis dan tidak tembus pandang sehingga menampakkan kulit tubuh.
  • Tidak menyerupai pakaian laki-laki
  • Tidak mencolok dan berwarna yang dapat menarik perhatian.
  • Tidak menyerupai pakaian wanita kafir.
  • Bukan pakaian untuk mencari popularitas.
  • Tidak diberi parfum atau wangi-wangian secara berlebihan.
2. Janganlah jilbab lebar serta cadar menjadi sebab seorang muslimah menjauh dari lingkungan sekitar, pergaulannya menjadi semakin eksklusif, kaku, tidak ramah dengan orang diluar kelompoknya dan terkesan paling benar serta akan masuk surga sendiri. Pandangan seperti inilah pandangan yang salah dan keliru yang semestinya kita luruskan dan kita perbaiki kembali terutama bagi sekalian akhwat serta ummahat (Ibu-ibu) yang sudah mengenal dakwah sunnah. Memang, terdapat Hadist yang mengatakan bahwa, "Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu." (HR Muslim, no.208).

Namun keterasingan ini maksudnya adalah orang-orang yang tetap baik tatkala masyarakat telah diliputi kerusakan, ditengah banyaknya manusia yang jauh dari syariat islam, jauh dari sunnah. Namun dalam pergaulan, tetap mereka adalah kaum muslimin yang mungkin masih jahil (belum tahu) yang tentunya harus kita beritahu tentang syariat  islam ini. Dan  mereka pun punya hak seperti dalam hadist berikut yang artinya:

"Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada lima: menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, memenuhi undangan dan mendoakan yang bersin." (HR. Bukhari, no. 1240 dan muslim, no.2162).

Semoga bermanfaat sahabat-sahabat yang dirahmati Alloh. Wallohu'alam Bishawab.

Selasa, 04 November 2014

6 Fakta Mengapa Babi tak Layak di Konsumsi (HARAM!!!!)

1. Apakah anda tahu kalau babi tidak dapat disembelih di leher? Ya, karena mereka tidak memiliki leher, sesuai dengan anatomi alamiahnya. Bagi orang yang beranggapan kalau babi memang harus disembelih dan layak bagi konsumsi manusia, tentu Sang Pencipta akan merancang hewan ini dengan memiliki leher.

2. Konsumen daging babi sering mengeluhkan bau pesing pada daging babi (menurut penelitian ilmiah, hal tersebut disebabkan karena praeputium babi sering bocor, sehingga urine babi merembes ke daging).

3. Babi adalah hewan yang kerakusannya dalam makan tidak tertandingi hewan lain. Ia melahap semua makanan yang ada di depannya. Jika perutnya telah penuh atau makanannya telah habis, ia akan memuntahkan isi perutnya dan memakannya lagi, untuk memuaskan kerakusannya. Ia tidak akan berhenti makan, bahkan memakan muntahannya. Ia memakan semua yang bisa dimakan di hadapannya. Memakan kotoran apa pun di depannya, kotoran manusia, hewan atau tumbuhan, bahkan memakan kotorannya sendiri, hingga tidak ada tersisa.

4. Kadang ia mengencingi kotorannya dan memakannya jika berada di hadapannya, kemudian memakannya kembali. Ia memakan sampah busuk dan kotoran hewan. Babi adalah hewan mamalia satu-satunya yang memakan tanah, memakannya dalam jumlah besar dan dalam waktu lama jika dibiarkan. Kulit orang yang memakan babi akan mengeluarkan bau yang tidak sedap.

5. Penyakit-penyakit cacing pita merupakan penyakit yang sangat berbahaya yang dapat terjadi karena mengonsumsi daging babi. Cacing berkembang di bagian usus 12 jari di tubuh manusia, dan beberapa bulan cacing itu akan menjadi dewasa. Jumlah cacing pita bisa mencapai sekitar ”1000 ekor dengan panjang antara 4 – 10 meter”, dan terus hidup di tubuh manusia dan mengeluarkan telurnya melalui BAB (buang air besar).

6. Daging babi merupakan penyebab utama kanker anus & kolon. Persentase penderita penyakit ini di negara-negara yang penduduknya memakan babi, meningkat secara drastis, terutama di negara-negara Eropa, dan Amerika, serta di negara-negara Asia (seperti Cina dan India). Sementara di negara negara Islam, persentasenya amat rendah, sekitar 1/1000.

Itulah Beberapa alasan Kenapa Allah S.W.T melarang kita Memakan daging Babi. Subhanallah ...

Selasa, 14 Oktober 2014

Prinsip Akidah Muslim Terhadap Non Muslim

Seorang muslim punya prinsip yang tidak bisa ditawar-tawar yaitu bagaimanakah sikap dia pada non muslim

1- Islam yang paling benar
Para ulama sepakat bahwa tidak ada di muka bumi ini agama yang paling benar selain agama Islam. Agama ini adalah penutup seluruh agama. Agama ini menghapus seluruh ajaran agama-agama sebelumnya. Tidak lagi tersisa di muka bumi yang menyembah Allah dengan benar selain agama Islam. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imron: 19)

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”
(QS. Al Maidah: 3)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imron: 85)

Yang dimaksud dengan Islam setelah diutusnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ajaran yang dibawa oleh beliau dan bukan yang dimaksud dengan ajaran selainnya.

2- Al Qur’an adalah kitab terakhir
Al Qur’anul Karim adalah kitab terakhir yang diturunkan oleh Allah. Al Qur’an meghapus kitab Taurat, Zabur, Injil dan seluruh kitab yang diturunkan sebelumnya. Al Qur’an adalah sebagai hakim yaitu ukuran untuk menentukan benar tidaknya ayat-ayat yang diturunkan dalam kitab-kitab sebelumnya. Tidak ada satu pun kitab yang diturunkan saat ini yang memberi petunjuk untuk beribadah pada Allah dengan benar selain Al Qur’anul Karim. Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai hakim terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (QS. Al Maidah: 48)

3- Taurat dan Injil telah dihapus oleh Al Qur’an
Seorang muslim wajib mengimani bahwa taurat dan injil telah dihapus dengan Al Qur’anul Karim. Perlu diketahui bahwa Taurat dan injil telah mengalami penyelewengan, penggantian, penambahan dan pengurangan sebagaimana hal ini telah dijelaskan dalam Al Qur’anul Karim. Di antaranya kita dapat melihat pada ayat,

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ

“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat).” (QS. Al Maidah: 13)

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al Baqarah: 79)

وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui. ” (QS. Ali Imron: 78)

Oleh karena itu, setiap ajaran yang benar yang ada dalam kitab-kitab sebelum Al Qur’an, maka ajaran Islam sudah menghapusnya (menaskh-nya). Selain ajaran yang benar tersebut berarti telah mengalami penyelewengan dan penggantian. Ada riwayat yang shahih yang menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah marah ketika Umar bin Al Khottob radhiyallahu ‘anhu melihat-lihat lembaran taurat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا بْنَ الخَطَّابِ؟ أَلَمْ آتِ بِهَا بَيْضَاءُ نَقِيَّةٌ؟! لَوْ كَانَ أَخِيْ مُوْسَى حَيًّا مَا وَسَعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِي رواه أحمد والدارمي وغيرهما.

“Apakah dalam hatimu ada keraguan, wahai Ibnul Khottob? Apakah dalam taurat (kitab Nabi Musa, pen) terdapat ajaran yang masih putih bersih?! (Ketahuilah), seandainya saudaraku Musa hidup, beliau tetap harus mengikuti (ajaran)ku.” (HR. Ahmad 3: 387, Ad Darimi dalam Al Muqoddimah, 1:115-116, Al Bazzar dalam Kasyful Astar 1: 78-79 no. 124, Ibnu Abi ‘Ashim dalam As Sunnah 1: 27 no. 50, Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jaami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlih, Bab Menelaah Kitab Ahli Kitab dan Riwayat dari Mereka 1: 24)
4- Nabi Muhammad adalah Penutup Para Nabi
Di antara keyakinan pokok dalam Islam yaitu nabi dan rasul kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para nabi dan rasul. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (QS. Al Ahzab: 40)

Oleh karenanya, tidak ada rasul yang wajib diikuti selain Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seandainya ada salah satu Nabi dan Rasul Allah hidup ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, maka ia pun harus mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi tersebut diharuskan mengikuti beliau, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu“. ” (QS. Ali Imron: 81)

Begitu pun dengan Nabi ‘Isa ‘alaihis salam. Ketika beliau turun kembali di akhir zaman, beliau akan mengikuti Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan akan berhukum dengan syari’at Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al A’rof: 157)

Begitu pula yang termasuk pokok keyakinan dalam Islam yaitu diutusnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah umum untuk seluruh manusia. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba': 28)

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

“Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.” (QS. Al A’rof: 158).Masih banyak ayat lainnya yang serupa dengan ini.
5- Selain Islam itu kafir
Yang juga termasuk ajaran pokok dalam agama ini adalah wajib diyakini bahwa setiap orang yang tidak masuk Islam baik Yahudi, Nashrani dan lainnya, maka mereka itu kafir. Penamaan kafir pada mereka adalah setelah datang penjelasan (hujjah) pada mereka. Mereka adalah musuh Allah dan Rasulullah serta musuh orang-orang beriman. Mereka nantinya termasuk penghuni neraka. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ

“Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.” (QS. Al Bayyinah: 1).

Begitu pula Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al Bayyinah: 6)

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ

“Dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya).” (QS. Al An’am: 19)

هَذَا بَلَاغٌ لِلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوا بِهِ

“(Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya.” (QS. Ibrahim: 52)

Ada sebuah riwayat dalam shahih Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya. Tidak ada seorang pun dari umat ini (yaitu Yahudi dan Nashrani), lalu ia mati dalam keadaan tidak beriman pada wahyu yang aku diutus dengannya, kecuali ia pasti termasuk penduduk neraka.”[1]

Oleh karena itu, siapa saja yang tidak mengkafirkan Yahudi dan Nashrani, maka ia juga ikut kafir. Hal ini berdasarkan kaedah syar’iyah,

مَنْ لَمْ يَكْفُر الكَافِرَ بَعْدَ إِقَامَةِ الحُجَّةِ عَلَيْهِ فَهُوَ كَافِرٌ

“Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang kafir setelah ditegakkan hujjah (penjelasan) baginya, maka ia kafir.”
Diambil dari Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta’ yang saat itu diketuai oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, selaku wakil adalah Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh, sedangkan Syaikh Bakr Abu Zaid dan Syaikh Shalih Al Fauzan sebagai anggota, Fatwa no. 19402, 12: 275-284.

[1] HR. Muslim dalam Al Iman (153), Musnad Ahmad bin Hambal (2/317)
Hanya Allah yang memberi taufik.
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Muslim.Or.Id